BUTUH Perhatian Pemda : Stasiun Tenjo Penghambat Pengembangan Greenline

BUTUH Perhatian Pemda : Stasiun Tenjo Penghambat Pengembangan Greenline
Daxa.net

Mungkin stasiun Tenjo ini tidak terkenal seperti stasiun lainnya. Tapi sebagian pengguna KRL Commuter Line Relasi Tanah Abang – Rangkasbitung sangat mengenal. Dengan ciri Khas makanannya *Dodol Tenjo*.
Stasiun Tenjo terletak di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa barat ini berada di jalur Greenline.
Kondisi Stasiun Tenjo saat ini sangat memperihatinkan.

Sedikit gambaran, stasiun ini terdapat dua lajur rel, namun salah satu peron untuk naik-turun penumpang masih berupa rangka besi. Disamping itu hanya menjangkau 8 gerbong kereta saja.
Kondisinya berbeda dengan peron di stasiun lain, yang lebih panjang dan memiliki garis kuning sebagai pembatas aman penumpang saat kereta melintas.

Disamping tidak memiliki peron yang memadai (layak) dan aman untuk penumpang, stasiun Tenjo juga belum dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang lengkap. Jangankan ruang laktasi untuk ibu menyusui, commuter vending machine yang dikhususkan untuk pembelian tiket secara mandiri saja belum ada.

Pengguna KRL di stasiun ini juga cukup banyak, hingga peron besi pun tidak mampu untuk menampung semua penumpang yang berada di stasiun ini untuk berpinjak.
Peron besi yang berada di stasiun Tenjo sangat menyulitkan penumpang saat naik dan turun dari KRL. Hal ini disebabkan karena pintu KRL tidak sejajar dengan peron besi yang ada.
Kondisi ini sangat membahayakan bagi anak – anak, ibu hamil dan lansia (Penumpang PRIORITAS) yang naik dan turun di stasiun ini.

Penumpang KRL di Stasiun Tenjo sangat mengharapkan perhatian dari DJKA, PT. KAI dan PT. KCI agar dapat segera membuatkan peron tinggi di stasiun Tenjo.
Dan demi efektifnya perjalanan KRL Commuterline, penumpang KRL di stasiun Tenjo juga meminta adanya pemberangkatan awal dan Akhir perjalanan KRL dari Stasiun Tigaraksa. Hal ini karena pengguna KRL di Stasiun Tenjo, Daru dan Cilejit merasakan tidak efektifnya perjalanan KRL dari Stasiun Maja. Dan selalu penuhnya rangkaian KRL pemberangkatan dari Rangkasbitung sehingga membuat pengguna KRL tidak nyaman.

Berdasarkan informasi dari kalangan masyarakat seputar stasiun, beberapa komunitas, staf – crew KRL Commuter Line dan bahkan dari pihak pengelola KRL Commuter Line pengembangan Greenline terhambat oleh stasiun ini.
Mengapa bisa menghambat ? Hal ini disebabkan tidak adanya lahan lagi untuk memperpanjang peron ke arah Barat, sementara perpanjangan ke arah Timur akan terhalang oleh adanya jalan raya.

Beberapa sumber informasi juga mengatakan, jika stasiun ini akan diperbagus (dikembangkan) perlu dibuat flyover, underpass atau memindahkan jalan. Sehingga peron bisa diperpanjang.
Saat ini, pengadaan rangkaian 12SF di Greenline terhambat karena beberapa stasiun belum siap dengan peron panjang, salah satunya Tenjo.
Jika stasiun-stasiun lain di Greenline sudah bisa direnovasi, hanya stasiun Tenjo yang mempunyai kendala karena mengganggu jalan raya.

Mari kita berdoa dan berupaya agar pemda kabupaten Bogor Jawa Barat lebih perduli dengan memilih salah satu alternatif cara agar jalan yang memotong peron bisa segera dialihkan.
“Gubernur baru Jawa Barat, mungkin akan lebih perduli dan mengerti tentang tata letak dan asitektur fasilitas umum, hingga stasiun Tenjo akan bisa segera di renovasi. Ini adalah kebutuhan yang sudah mendesak, mengingat pengguna KRL Commuter Line lintas Greenline sudah mengalami perkembangan yang pesat. Kalau tidak dibarengi dengan pembangunan sarana dan prasarana maka sudah jauh dari kata MANUSIAWI !. Dengan terselesaikan masalah jalanraya ini, maka pihak operator PT. KCI dan PT. KAI bisa segera membangun dan mengembangankan stasiun Tenjo”, kata salah satu roker Greenline yang tak mau disebutkan namanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *