PANGGIL DIA IBU : EPISODE 26

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Panggil Dia Ibu : Episode 26

 

Setelah dapat informasi dari Rendy Agus bahwa di rumahnya sedang banyak tamu, akhirnya Elmeira bertolak dan balik arah menuju ke stasiun Tanah Abang lagi. Ketika kereta berhenti di stasiun Rawabuntu, Elmeira keluar rangkaian. Dia harus segera balik arah. Untuk apa turun di Cisauk lagi, toh malam ini dia tidak bisa numpang menginap di rumahnya Rendy Agus.

Dengan langkah gontai, Elmeira menelusuri area peron dua stasiun Rawabuntu untuk kemudian menyeberang ke jalur satu dan menunggu kereta tujuan Tanah Abang. Dan setelah itu Elmeira bingung mau kemana lagi. Sementara hari semakin beranjak menuju sore. Semburat sinarnya sudah tak sepanas tadi.

Sampai di ujung peron, Elmeira segera menyeberang rel dan naik ke peron jalur satu kemudian duduk di kursi, menunggu kereta dari arah Serpong tujuan Tanah Abang, datang. Tatapan Elmeira demikian kosong dan hampa. Tidak ada semangat hidup dan keceriaan. Sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa di seberang rel sana ketiga pengintai yang mengikutinya dari stasiun Sudirman tadi ada di seberang peron stasiun Rawabuntu.

Baik ketiga pengintai dan Elmeira satu sama lain tidak saling melihat. Hahhh, seandainya saja sama-sama melihat, keadaan pasti akan sangat tegang dan keselamatan Elmeira akan dalam keadaan bahaya lagi. Beberapa saat setelah itu, dari arah selatan sayup-sayup terlihat commuterline tujuan Tanah Abang. Elmeira segera tersadar setelah announcer stasiun menginformasikannya.

Dan ketika Elmeira hendak berdiri itulah di seberang peron dia melihat ketiga pengintai itu lagi. Astagfirullahaladzim. Elmeira langsung ketakutan dan bingung apa yang harus dilakukan. Ketiga pengintai itu nampak sangar-sangar dan jeli memperhatikan keadaan sekitar. Sampai akhirnya, ketika tanpa sengaja, salah satu dari pengintai itu menatap ke arah Elmeira.

Seketika Elmeira langsung pucat dan mendelikkan kedua matanya. Tulang-tulangnya seperti hendak terlucuti ketika salah satu dari pengintai itu melihat wajahnya. “Astagfirullahaladzim, bagaimana ini. Mereka melihat aku. Mereka tahu aku ada di sini. Ya Allah… lindungi aku ya Allah. Selamatkan aku.” Pekik Elmeira merintih di dalam hatinya.

Dan tak lama dari itu, commuterline tujuan Tanah Abang tiba di jalur satu stasiun Rawabuntu. Elmeira sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam rangkaian kereta, agar dia bisa segera terbebas dari para pengintai itu. Dan semoga saja mereka tidak sempat menyeberang ke jalur satu dan akhirnya naik kereta yang sama. Toh walaupun pada akhirnya mereka bisa naik juga, Elmeira harus mencari cara bagaimana dia bisa lolos dari kejaran para pengintai tadi.

Pintu kereta segera terbuka. Elmeira bergegas masuk ke dalam rangkaian kereta dan mencari tempat yang aman. Sebelum mencari tempat yang aman, Elmeira mengintip dari kaca kereta untuk mengetahui keberadaan ketiga pengintai itu. Namun sepertinya Elmeira tidak melihat ketiga pengintai itu, apa mungkin mereka bisa masuk ke dalam rangkaian kereta yang Elmeira naiki.

Hahhh, Elmeira mulai gelisah dan cemas. Dia harus semakin waspada. Dia berharap, ketiga pengintai itu tidak terkejar untuk naik ke dalam kereta. Karena posisi mereka tadi agak jauh di ujung peron sebelah selatan. Untuk mengejar agar bisa naik ke dalam rangkaian kereta, setidaknya mereka harus berlari ke arah utara dan kemudian menyeberang rel. Dan untuk melakukan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan durasi kereta berhenti tidak terlalu lama biasanya.

Sambil menahan degup jantung di dalam dadanya, Elmeira tetap melihat ke kaca kereta untuk memastikan ketiga pengintai itu bisa naik ke dalam rangkaian kereta atau tidak. Dan ketika kereta bergerak dan melanjutkan perjalanan lagi menuju Tanah Abang, Elmeira memfokuskan tatapannya ke ujung utara peron dua stasiun Rawabuntu. Dan ketika sampai di ujung peron, Elmeira bisa bernafas dengan lega, bahwa ternyata ketiga pengintai itu tertahan oleh petugas PKD di ujung peron.

Ya, mungkin para pengintai itu hanya telat beberapa detik saja. Mereka tidak bisa naik ke dalam rangkaian kereta yang Elmeira naiki karena kereta terlanjur diberangkatkan kembali dan Elmeira melihat semua itu. Seketika Elmeira menarik nafas panjang pertanda lega karena bisa terbebas dari para pengintai itu. Huhhh. Hahhh. Alhamdulillah.

Dengan tenang, Elmeira melangkah menuju ke persambungan. Tadinya dia tidak mau duduk karena tempat duduk sudah terisi semua. Namun ketika ada satu space di kursi prioritas, Elmeira pun duduk di sana. Tepat bersebelahan dengan seorang anak kecil perempuan yang usianya mungkin sekitar delapan atau sembilan tahun. Anak perempuan itu duduk bersebelahan bersama seorang Bapak yang sepertinya adalah Ayahnya.

Yang membuat Elmeira agak kagum dengan anak perempuan itu adalah, dia sedang memegang mushaf atau Al-Qur’an kecil yang dipegangnya sambil komat-kamit menghafalkan sesuatu. Kalau Elmeira boleh menebak, sepertinya anak perempuan itu sedang menghafalkan Al-Qur’an yang sedang dibacanya.

Sayup-sayup Elmeira bisa mendengar suara anak perempuan itu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan suara yang merdu dan enak didengar. Sesekali anak perempuan itu memejamkan kedua matanya untuk lebih fokus dalam menghafal.

“Bagaimana, sudah siap belum Abi test nih.”
“Belum Abi, sedikit lagi. Aku belum hafal betul yang baris terakhir, tunggu ya Abi.”
“Baiklah. Abi tunggu ya. Jangan ada yang salah ya nanti pas Abi test.”
“Oke.”

Elmeira memulaskan setitik senyum di ujung bibirnya. Anak perempuan itu ternyata sedang belajar menghafal Al-Qur’an dan sebentar lagi akan ditest oleh Ayahnya yang dia panggil dengan sebutan Abi. Sungguh, Elmeira merasa malu dengan anak perempuan itu. Dia iri sekaligus merasa tercambuk dengan sendirinya. Dia jadi ingat dulu saat masih kecil ketika Wawan Ayahnya menyuruh dia belajar mengaji dan menghafal Al-Qur’an, namun Elmeira tidak pernah mau karena alasan ngantuk.

Namun ketika melihat anak perempuan di sebelahnya sedang menghafal Al-Qur’an, Elmeira jadi merasa bersalah. Mungkin bila dulu dia menurut dan mau mengikuti anjuran Ayahnya, mungkin saat ini beberapa juz Al-Qur’an sudah dia hafal. Bahkan mungkin 30 juz sekalian. “Ayah… Maafkan aku Yah. Maafkan aku.” Elmeira hanya bisa merintih di dalam hatinya.

BERSAMBUNG ke episode berikutnya..

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *