COMMUTERLINE LOVE STORY : EPISODE 2

Daxa.net

Perempuan itu agak ragu menerima sapu tangan warna biru muda dari Dhandy. Sejenak perempuan itu menatap wajah Dhandy dan Dhandy pun demikian. Di mata itu, Dhandy merasakan ada keteduhan dan kedamaian. Mata yang bulat dan berwarna bersemu biru, seperti mata orang Eropa pada umumnya. Dhandy memperhatikan dengan seksama kedua mata itu hingga nyaris tak berkedip. Ada sesuatu yang bergemuruh dan meletup-letup dalam dada Dhandy. Membawanya ke sebuah perasaan yang masih bayang-bayang. Ahhh. Dhandy tak tahu apa itu. Yang jelas, perempuan itu mempunyai wajah yang mempesona. Yang mampu menggerakkan palung yang terdalam sekalipun.

 

Siapa perempuan berambut panjang lurus di bawah bahu itu. Wajahnya sedikit oval dan berkulit putih mulus. Cantik yang pasti dan ini adalah untuk yang pertama kalinya untuk Dhandy bertatapan dengan seorang perempuan yang mampu membangkitkan perasaan di dalam dadanya. Ahhh…

 

“Ya ellah natapnya gitu amat. Biasanya aja kelless.” Suara seorang Bapak yang berdiri di sebelah kanan Dhandy memecah lamunan. Dhandy segera tersadar.
“Astagfirullahaladzim. Maaf, maaf. Oh iya, ini sapu tangannya Mbak. Pakailah.” Tawar Dhandy kemudian.
“Tapi Mas…”
“Nggak apa-apa, pake aja Mbak.”
“Udah Mas, dilapin aja. Biar romantis kayak di film-film gitu.” Si Ibu yang duduk di samping perempuan itu ikut nyeletuk. Pipi Dhandy langsung bersemu merah.
“Aduh si Ibu, bisa aja nih. Orang Mbaknya lagi berduka juga.” Dhandy jadi kikuk dengan sendirinya. Merasa malu diperhatikan oleh banyak penumpang kereta. Duhhh…
“Terima kasih ya Mas.” Perempuan itu pun akhirnya mengambil sapu tangan yang ditawarkan oleh Dhandy.

 

Commuterline tujuan Tanah Abang terus berderak mengikuti jalur rel yang ada di depannya. Dhandy membiarkan perempuan cantik itu mengusap air matanya. Dhandy memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk menetralisirkan keadaannya yang masih bersedih karena kecopetan. Sungguh, melihat kesedihan perempuan itu Dhandy benar-benar tidak tega. Andaikan saja boleh, ingin rasanya Dhandy membantu mengusap air matanya, menghapus dukanya, bahkan mungkin membesarkan jiwanya dengan cara memeluknya. Tapi hal itu mustahil dilakukannya. Dhandy baru saja kenal dan bertemu dengan perempuan itu. Namanya saja belum tahu siapa.

 

Tatapan Dhandy terus tertuju kepada perempuan itu. Sampai akhirnya perempuan itu menatapnya dan Dhandy lekas-lekas mengalihkan tatapan untuk menghindari rasa malu.
“Mas… ini sapu tangannya. Terima kasih ya.” Perempuan itu mengulurkan sapu tangan milik Dhandy ke pemiliknya lagi.
“Oh, nggak apa-apa. Buat Mbak aja. Saya masih ada koq. Anggap saja itu kenang-kenangan dari saya.”
“Aduh, yang bener Mas. Saya jadi nggak enak nih.”
“Simpan saja, mungkin suatu saat nanti Mbak membutuhkan lagi sapu tangan itu.”
“Terima kasih banyak ya Mas.”
“Sama-sama.”

 

Helai senyum membentang tipis di wajah perempuan itu. Walaupun sedang dalam berduka, namun dia masih menyempatkan diri untuk memberikan senyuman. Dan Dhandy pun membalas senyuman itu seperlunya.
“Terus bagaimana Mbak. Surat-surat apa saja yang hilang?” Tanya Dhandy sekedar lebih peduli saja.
“Ada STNK mobil, SIM, ijazah, KTP, beberapa ATM dan surat wasiat.”
“Surat wasiat?”
“Papi saya pasti marah besar. Saya bingung. Handphone…”
“Rumah Mbak di mana, biar saya antar.” Entahlah, dapat kekuatan dan keberanian dari mana, sampai-sampai Dhandy bisa mengatakan hal itu. Semua terjadi secara spontan.
“Percuma Mas, untuk apa?”
“Mbak, masalah itu terjadi untuk dihadapi, bukan untuk disesali atau ditangisi. Dan saya yakin Mbak bisa melewatinya.”
“Cieeee si Mas, soq nasehatin segala lagi. Modus tuh. Huuu.” Si Bapak yang berdiri di sebelah kanan Dhandy kembali bersuara. “Makanya kenalan dong. Tanya, siapa namanya.”

 

Andai saja ada cermin di depannya, mungkin Dhandy akan malu sendiri melihat pipinya yang berona merah. Ucapan si Bapak itu benar-benar membuatnya tengsin dan mati gaya. Sejenak Dhandy memutar pandangannya. Ya ampun, hampir semua penumpang yang ada di dalam rangkaian kereta, memperhatikannya. “Aduhhh, malu banget ini.”

 

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *