PANGGIL DIA IBU : EPISODE 13

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Panggil Dia Ibu : Episode 13

 

Mendengar teriakan dari Yulia, semua penumpang yang ada di dalam kereta langsung ramai sekaligus kaget.

“Mana copetnya, mana! Hajar aja!”
“Bunuh saja kalau perlu.”
“Itu dia orangnya. Dari tadi laki-laki itu mepet ke Mbaknya yang memakai tas warna hitam. Bahkan sudah mengeluarkan pisau kecil segala.”

Yulia semakin memperjelas dan menegaskan. Semuanya langsung mengarahkan pandangannya kepada laki-laki yang sudah ditunjuk oleh Yulia. Sementara itu dengan Elmeira, dia pun seketika kaget. Langsung memegang erat tasnya yang memang dia selempangkan di samping kiranya. Namun belum sempat Elmeira memegang tasnya, sepertinya Elmeira merasakan sayatan di tasnya. Setelah diraba-raba ternyata benar. Elmeira merasa seperti ada sobekan di bagian depan tasnya.

Dan setelah dilihat, Elmeira langsung terhenyak. Tasnya sudah sobek kira-kira sepuluh senti di bagian depannya.

“Tas saya, tas saya ada yang sobek. Dan… dompet saya juga udah nggak ada. Dompet saya. Astagfirullahaladzim. Copeeettt. Copet toloooong.” Seketika Elmeira langsung histeris dan berteriak sekencang-kencangnya. Dia mendapati tasnya sudah koyak.
“Ini dia copetnya. Ini dia.” Yulia menunjuk-nunjuk ke laki-laki yang tadi mencurigakan dan membawa pisau kecil.

Beberapa saat setelah itu, kereta tiba di stasiun Depok. Pintu pun segera terbuka. Dan setelah itu, laki-laki yang tadi membawa pisau kecil itu langsung berlari sekencang-kencangnya ke arah utara, bukan ke arah gate out.

“Hey. Tunggu kamu. Dasar copet! Woyyy, jangan kabur kamu!” Tanpa disangka, Yulia mengejar copet itu dengan sekuat tenaga. Dia berlari sekencang-kencangnya mengejar copet itu. Beberapa orang ikut mengejar copet itu. Dan petugas PKD, mengikutinya dari belakang.

Elmeira merasa sedih, takut dan juga khawatir. Karena di dalam dompet itu ada uang yang jumlahnya lumayan banyak. Uang itu adalah hasil dari lukisan yang dijualnya ke beberapa toko lukisan di Jakarta dan akan digunakan untuk biaya ujian nasional nanti. Namun Elmeira juga merasa kagum dan juga takjub, ada seorang perempuan yang ikut mengejar copet itu dan larinya lumayan kencang. Perempuan itu pula yang dari tadi meneriaki laki-laki itu copet. Siapa perempuan itu, Elmeira jadi penasaran. Karena memakai masker, Elmeira tidak bisa melihat wajahnya.

Beberapa penumpang yang ada di dalam kereta yang berhenti di jalur satu, ikut melihat copet itu dikejar ke arah utara. Larinya sangat kencang sekali. Bahkan semua orang yang ada di stasiun Depok, ikut melihat kejadian itu. Sebentar kemudian, copet itu sudah loncat ke bawah. Padahal peron lumayan tinggi. Namun sayang, karena kurang keseimbangan, copet itu terjatuh di atas bantalan rel. Melihat itu, orang-orang yang mengejar copet itu langsung berlari dan loncat ke bawah juga.

“Sukurin lo jatoh. Kualat lo.”
“Ayo tangkap, jangan sampai lolos.”

Belum sempat terkejar dan loncat ke bawah, copet itu tiba-tiba saja bangun dari jatuhnya dan melanjutkan larinya. Dari caranya berlari, copet itu nampak tergesa-gesa. Dan sementara itu tanpa diduga, Yulia perempuan bermasker itu berhasil loncat ke bawah dan mengejar copet itu. Beberapa orang di stasiun Depok yang melihat itu nampak takjub sambil geleng-geleng kepala melihat keberanian Yulia loncat ke bawah demi mengejar copet itu. Tepatnya, demi Elmeira.

“Ibuuuu, awas! Ada kereta barang mau lewat. Hati-hati.” Teriak seorang Bapak yang berada di ujung peron tiga arah utara menginformasikan kepada Yulia bahwa dari arah utara akan ada kereta barang yang melintas. Mendengar teriakan itu, Yulia langsung melihat ke arah utara. Namun dia juga melihat ke copet yang semakin jauh berlari. “Dompet anakku, dompet anakku, tidak.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Yulia tanpa bisa mengejar copet itu lagi karena akan ada kereta barang yang melintas.

Namun copet itu seperti kurang berhati-hati. Keseimbangannya kembali oleng, dia terjatuh dibantalan rel untuk yang kedua kalinya. Dan posisi jatuhnya adalah di rel jalur empat, di mana kereta barang dari arah utara akan melintas. Dan sepertinya copet itu tidak bisa bangun lagi dari jatuhnya. Dia terlihat memegang-megang kedua kakinya yang sepertinya kesakitan. Mungkin kram atau bahkan terkilir karena terlalu kencang berlari.

Sementara itu dari arah utara kereta barang sudah terlihat dan melaju dengan kencang. Copet itu melihat kereta barang semakin mendekat. Sementara dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua kakinya sulit untuk digerakkan. Copet itu nampak ketakutan dan setengah putus asa. Sementara itu, tidak seorang pun yang bisa menolongnya. Terlebih Yulia yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan lokasi jatuhnya copet itu.

“Toloooong… toloooong! Aku belum mau mati. Toloooong. Kaki aku susah dilegrakkan. Aaarrrggghhh. Tidaaakkk!” Copet itu teriak putus asa sekencang-kencangnya. Sambil berusaha untuk keluar dari bantalan rel, hatinya semakin ciut dan takut. Kini, jarak antara kereta barang dan copet itu semakin dekat. Klakson kereta pun dibunyikan berkali-kali. Namun tetap saja copet itu belum bisa keluar dari bantalan rel.

Di detik-detik terakhir kereta barang melintas tepat di posisi jatuhnya sang copet, copet itu berusaha keluar dari bantalan rel dengan cara merangkak dan ngesot agar kedua kakinya tidak terlindas kereta. Semua tenaga dikerahkan. Walaupun sakit, tapi dia tahan. Hingga beberapa saat setelah itu, kereta melintas dan…

“Krekkk… Krekkk… Krekkk!”
“Aaaaaa. Sakkkiiittt. Sakkkiiittt.”

BERSAMBUNG ke episode berikutnya….

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *