PANGGIL DIA IBU : EPISODE 14

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Panggil Dia Ibu : Episode 14

 

Yulia masih belum bisa lupa bagaimana copet itu pada akhirnya terlindas kereta barang yang sedang melintas. Ya, kedua kakinya langsung terpotong dua. Sedangkan kedua tangannya hancur tercerai berai. Dan saat itu juga, copet itu dinyatakan meninggal di lokasi kejadian. Sungguh, Yulia begitu trauma dan ngeri sekali melihatnya. Takdir copet itu sungguh mengenaskan. Di kursi peron stasiun Depok, dia menundukkan wajahnya sambil memegang dompet milik Elmeira yang berhasil diambilnya dari tangan pencopet itu.

Saat ini, pihak dari kepolisian, beberapa petugas PKD stasiun Depok dan petugas TNI, sudah mengurus jenazah pencopet yang terlindas kereta itu. Kerumunan warga yang melihat kejadian tadi sudah membubarkan diri ke tempatnya masing-masing. Area stasiun Depok yang tadi sempat heboh dan ramai, kini mulai normal seperti biasa. Perjalanan kereta yang tadi sempat terhenti untuk beberapa saat lamanya karena proses evakuasi, sudah beroperasi normal.

Namun hati dan perasaan Yulia masih ngeri. Membayangkan kedua kaki dan tangan pencopet itu terlindas kereta barang. Seumur hidup, itu adalah yang pertama kalinya. Melihat langsung, seseorang kecelakaan dan terlindas kereta. Dalam keadaan masih memakai masker, Yulia menetralisirkan nafasnya. Tadinya, Yulia akan dibawa ke kantor polisi untuk dijadikan saksi atas kejadian itu, namun karena korban langsung meninggal di tempat, polisi tidak terlalu membutuhkan itu lagi.

Sedari tadi Elmeira penasaran siapa perempuan yang sudah berkorban dan mengerahkan segala tenaga untuk menyelamatkan dompetnya dari copet itu. Mulai dari dalam kereta, sampai kepada copetnya terlindas kereta kemudian meninggal. Karena, perempuan itu begitu besar pengorbanannya dan begitu peduli. Padahal kalau dipikir, nyawa adalah taruhannya. Padahal, Elmeira tidak mengenal siapa perempuan itu.

Untuk itu, perlahan-lahan Elmeira menghampiri perempuan itu yang tak lain tak bukan adalah Yulia yang masih mengenakan masker. Elmeira ingin mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu. Andai saja Elmeira tahu siapa yang sudah menolongnya, entahlah. Apa yang akan dia lakukan.

“Ibu…” Ucap Elmeira duduk di samping Yulia. Merasa didekati, Yulia yang masih mengenakan masker langsung menatap wajah Elmeira. Putrinya.
“Oh iya Nak. Ini dompetnya saya kembalikan. Insya allah isinya masih utuh.” Yulia menyerahkan dompet itu kepada Elmeira. Dan Elmeira pun menerimanya dengan badan setengah menunduk.
“Terima kasih banyak ya Bu. Sungguh, Ibu begitu baik pada saya. Ibu rela mengejar copet itu sampai-sampai mempertaruhkan nyawa Ibu sendiri. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan hati Ibu.”
“Kamu tidak usah membalasnya Nak, insya allah saya ikhlas.”

Mendengar Yulia berbicara di balik maskernya, Elmeira mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ya, sepertinya dia pernah mendengar suara itu sebelumnya. Namun karena tertutup oleh masker, dia jadi ragu. Khawatir salah orang. Elmeira pun menjungkitkan kedua alisnya.

“Kenapa Nak? Ada yang salah?”
“Sepertinya saya tidak asing dengan suara Ibu.” Ungkap Elmeira apa adanya.
“Maksudnya?”
“Boleh Ibu membuka masker Ibu?”

Mendengar pertanyaan itu Yulia tersentak kaget. Permintaan dari putrinya itu benar-benar mengejutkan. Sebenarnya Yulia tidak siap untuk membuka maskernya karena khawatir Elmeira pasti akan memarahinya. Namun demi Elmeira, Yulia pun menyanggupinya. Terlebih, Elmeira mulai mengenali suaranya. Apapun yang akan terjadi nanti, Yulia sudah siap dengan segala konsekuensinya. Dan perlahan, Yulia pun melepaskan maskernya.

“Astagfirullahaladzim…” Elmeira langsung terlonjak ke belakang ketika tahu siapa perempuan yang telah menyelamatkan dompetnya itu. “Jadi… jadi yang…”
“Iya Nak. Ini Ibu, ini Ibu Elmeira. Ibu lakukan semua ini demi kamu. Ibu nggak mau melihat orang lain mencelakai kamu Nak.” Akhirnya, keadaan mulai berbalik.
“Elo memang lancang. Elo udah bohongin gue. Kurang ajar lo.” Seperti yang diprediksi oleh Yulia, Elmeira mulai marah-marah dan mengeluarkan emosinya.
“Elmeira… Maafkan Ibu Nak.”
“Elo pikir, gue seneng ditolong sama elo perempuan jahat. Gue nggak sudi. Amit-amit. Dan gue akan tarik ucapan terima kasih gue tadi. Gue nggak sudi berterima kasih sama lo. Elo itu perempuan jahat.”
“Elmeira… sayang.”
“Stop. Gue jijik dengernya. Sebaiknya, elo pergi dari sini. Pergi!!”
“Elmeira… Maafkan Ibu Nak.”
“Gue bilang pergi!!”

Yulia tidak bisa berbuat apa-apa. Seketika dia menangis sambil beranjak pergi meninggalkan Elmeira yang sedang dirasuki api kemarahan.

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *