PANGGIL DIA IBU : EPISODE 30

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Panggil Dia Ibu : Episode 30

 

Untuk beberapa saat lamanya suasana di stasiun Duri lumayan heboh dan ramai. Semua mata tertuju pada sebuah kejadian yang ada di ujung utara selatan peron. Di sana ada dua orang laki-laki yang sedang menyekap seorang perempuan yang tak lain adalah Elmeira. Dan ketika melihat Elmeira berada dalam sekapan seperti itu, seketika Yulia dan Habibi langsung melangkah dan mendekat.

“Astagfirullahaladzim, itu kan si teteh Bu.”
“Teteh kamu dalam bahaya Habibi. Dia sisekap. Aduh bagaimana ini. Ya Allah.” Sambil berbicara, Habibi dan Yulia semakin mendekat. Mereka menyeruak di antara kerumunan para penumpang.

Yulia melihat, kedua tangan Elmeira diikat ke belakang. Mulutnya dikunci dengan plakband warna hitam. Sementara wajah Elmeira nampak ketakutan dan putus asa. Dua orang yang sedang membekapnya itu tampangnya kasar-kasar dan bengis. Dua bilah belati berada di samping kiri dan kanan leher Elmeira. Itu artinya Elmeira sedang dalam keadaan bahaya dan gawat.

“Elmeira! Elmeira!” Yulia berteriak-teriak sambil berlari menuju ke posisi Elmeira yang sedang disekap.
“Jangan mendekat! Jangan mendekat!” Perintah salah satu penyekap sambil menahan Yulia yang bermaksud menghampiri Elmeira. Seketika Yulia dan juga Habibi menghentikan langkahnya.
“Dia anak saya, mau kalian apakan anak saya. Dasar pengecut! Banci kalian semua.”
“Sekali lagi anda melangkah atau berteriak-teriak, saya tidak segan-segan untuk menebas leher anak anda sekarang juga. Paham!”

Para petugas PKD yang ada di stasiun Duri tidak berbuat apa-apa. Sedari tadi ingin menolong Elmeira dan melepaskan Elmeira, namun itu akan membahayakan nyawa Elmeira itu sendiri. Akhirnya, kedua penyekap itu dibiarkan begitu saja.

“Siapa kalian sebenarnya. Apa salah anak saya?” Tanya Yulia memberanikan diri.
“Anda tidak usah banyak bicara. Kalau anda ingin anak anda selamat, panggil laki-laki yang bernama Wawan. Hanya laki-laki yang bernama Wawan yang bisa membebaskan anak anda.”
“Astagfirullahaladzim. Elmeira… ini Ibu Nak.”
“Teteeehhh.”

Orang-orang yang berkerumun di stasiun Duri semakin banyak dan semakin ramai. Tidak seorang pun yang berani mendekat. Kedua penyekap itu siap sedia dengan belati yang sedang ditempelkan di leher Elmeira.

BERSAMBUNG ke episode berikutnya.

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *