COMMUTERLINE LOVE STORY : EPISODE 15

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Commuterline Love Story : Episode 15

 

Wajah Annisa terlihat sedih dan juga gelisah setelah mendapatkan telepon dari Bi Dedeh, pembantunya di rumah tentang keadaan Papinya yang dikabarkan akan melakukan aksi bunuh diri. Namun di lain sisi, dia juga memikirkan keadaan Dhandy yang saat ini sedang di rumah sakit. Kedua hal itu sangat menyita perhatian Annisa. Dan saat ini juga dia harus segera memutuskan. Namun sepertinya Annisa memang sudah memutuskan untuk segera pulang melihat keadaan Papinya. Karena bagaimanapun Papinya adalah orangtuanya yang harus dia dahulukan daripada Dhandy. Walaupun sebenarnya, hati kecilnya memikirkan Dhandy.

Sedikit lagi, nyaris saja dia bisa bertemu dengan Dhandy. Namun sepertinya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mereka bertemu. Padahal banyak sekali yang ingin Annisa ceritakan kepada Dhandy selama mereka tidak bertemu.

“Ya sudah… bagaimanapun orangtua lebih utama Mbak Annisa. Segeralah pulang. Temui Papinya.” Ucap Jarwo sambil menjejeri langkah Annisa di peron stasiun Serpong.
“Iya Mas Jarwo, terima kasih. Mungkin sekarang belum saatnya bagi saya untuk bertemu dengan Mas Dhandy.”
“Kalau sudah saatnya, kalian pasti bisa dipertemukan. Semua akan indah pada waktunya.”
“Titip salam sama Mas Dhandy ya Mas Jarwo. Bilang sama Mas Dhandy, semoga dia lekas sembuh.”
“Insya allah, nanti akan saya sampaikan Mbak.”
“Oh iya Mas. Mas Dhandy pasti memerlukan nomor handphone saya. Bisa dicatat Mas. Atau gini aja, bisa minta nomor handphonenya Mas Dhandy. Agar saya bisa menghubunginya.”
“Oh tentu saja. Sebentar ya.”

Jarwo bergegas mengeluarkan handphone dari saku celananya. Dan beberapa saat kemudian dia pun mulai menyebutkan nomor handphone Dhandy kepada Annisa. Dan Annisa pun segera mencatatnya di handphone.

“Terima kasih Mas Jarwo. Kalau begitu saya pamit pulang dulu.”
“Oh iya. Hati-hati Mbak Annisa, semoga Papinya baik-baik saja.”
“Iya, terima kasih Mas Jarwo. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikum salam.”

Annisa melangkah ke arah utara peron stasiun, meninggalkan Jarwo yang berdiri mematung di tempatnya.

Di dalam kereta tujuan Tanah Abang, Annisa terus berpikir tentang keadaan Papinya. Tak habis pikir hingga saat ini. Mengapa aksi bunuh diri itu masih terus dilakukannya. Dan Annisa tahu apa yang menjadi permasalahannya. Ya, semenjak perusahaan tempatnya bekerja bangkrut dan dipecat, Papinya Annisa, Arrahman Putra, sering murung dan pekerjaannya selalu marah-marah. Seperti kehilangan semangat. Seperti tidak punya iman dan dalam dada. Dan Annisa sebagai anak kandungnya merasa bingung dan juga prihatin atas apa yang sedang menimpa Papinya.

Sebenarnya bukan karena perusahaan itu bangkrut dan tidak bisa bekerja lagi. Akan tetapi sikap Papinya Annisa berubah drastis semenjak istrinya meninggal karena kecelakaan itu. Dan semua itu karena Annisa juga. Pokoknya separuh jiwanya memang seperti terbang ketika Pak Arrahman Putra kehilangan istrinya. Ditambah lagi dengan rumahnya yang di Bogor disita oleh pihak Bank beserta semua isinya karena tidak sanggup melunasi sisa cicilannya.

“Pi… maafin Nissa Pi. Semua ini salah Nissa.” Karena saking sedih dan menyesalnya, Annisa sampai berbicara sendiri di tempat duduknya. Dan tanpa terasa, sebutir air mata jatuh merebak menuruni pipinya.
“Jangan menangis Dek. Ini ada tissue untuk kamu.”

Annisa tersentak. Tiba-tiba saja selembar tissue sudah ada di depan matanya. Seseorang telah mengulurkannya. Seketika Annisa langsung menoleh ke arah kanan, ke sang pemilik tissue. Dan terlihatlah seorang Bapak yang sudah tersenyum ramah padanya.

“Ini tissuenya. Ayo ambil.” Ucap si Bapak sambil menatap wajah Annisa. Namun Annisa tidak serta merta mengambil tissue itu. Dia ragu-ragu dan tetap waspada. Khawatir orang tersebut bermaksud tidak adil. “Jangan khawatir Dek, saya tidak ada niat jahat. Ambillah tissue ini untuk menghapus air mata kamu.”
“Terima kasih Pak.” Jawab Annisa akhirnya mengambil tissue itu dan diusapkan ke pipinya.
“Pasti ada hal yang berat, hingga membuat Adek ini menangis.” Lanjut Si Bapak kemudian sambil terus tersenyum ramah.
“Bapak siapa, mengapa baik sama saya?” Tanya Annisa tiba-tiba.
“Oh iya kenalkan. Saya Abdur Rahman. Panggil saja Abdur.”
“Annisa.”

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *