COMMUTERLINE LOVE STORY : EPISODE 14

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Commuterline Love Story : Episode 14

 

Annisa Azzahrah segera turun dari rangkaian kereta setelah kereta yang dia naiki tiba di stasiun Serpong. Pandangannya segera dilayangkan ke seantero stasiun. Mencari-cari sosok Dhandy yang tadi ditemuinya di dalam kereta walaupun tidak sampai bertemu muka. Situasi di area peron stasiun Serpong cukup stabil. Beberapa penumpangnya terlihat masuk ke dalam rangkaian kereta yang ada di jalur dua. Setelah itu Annisa bingung apa yang harus dilakukannya. Entah harus apa dan bertanya apa juga kepada siapa. Tujuannya saja masih simpang siur.

Di tengah-tengah peron sebelah kursi besi panjang, Annisa melihat seorang petugas PKD berseragam biru donker sedang berdiri sekaligus berjaga memperhatikan keadaan sekitar. Mungkin sebaiknya Annisa bertanya kepada petugas PKD itu. Siapa tahu petugas itu mengetahui tentang kereta sebelumnya yang tiba di stasiun Serpong. Akhirnya dengan agak ragu dan bingung, Annisa mendekat ke petugas PKD itu.

“Selamat siang Pak. Maaf saya mau tanya.” Ucap Annisa penuh ragu dan sedikit takut. Tak tahu apa yang ditakutkan.
“Selamat siang Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya petugas PKD itu sambil menatap Annisa.
“Emmm… kereta yang sebelum yang tadi ini, euuu… Sampai di stasiun Serpong ini… lalu…” Annisa jadi bingung sendiri apa yang sedang dibicarakannya. Petugas PKD pun berusaha menangkap apa yang dimaksudkan oleh Annisa.
“Pelan-pelan Mbak, yang jelas. Biar saya mengerti.”
“Anu Pak. Saya hanya mau menanyakan. Saya tadi ketinggalan kereta yang depannya kereta ini. Dan tadi tuh saya tidak sengaja melihat teman saya ada di kereta itu dan…”
“Annisa!”

Saat kata-kata dan ucapan tidak karuan seperti itu, tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang memanggil nama Annisa dengan lantang dan jelas. Suara seorang laki-laki. Annisa pun segera membalikkan badannya dan melihat siapa yang memanggilnya. Dan setelah melihat siapa yang memanggilnya, Annisa pun langsung mengkerutkan dahinya. Karena dia merasa tidak mengenal laki-laki itu. Tapi laki-laki itu tahu namanya. Wahhh, Annisa harus berhati-hati.

“Mmm… Masnya ini siapa ya. Saya tidak kenal sama Masnya lho.” Seru Annisa cepat.
“Mungkin Mbak Annisa tidak mengenal saya. Tapi saya kenal Mbak Annisa.”
“Lho… koq bisa. Jangan-jangan Masnya ini…”
“Jangan curiga dulu. Saya tidak ada maksud jahat koq. Perkenalkan, saya Sujarwo Tejo. Tapi Mbak Annisa panggil saja saya Jarwo. Saya ini sahabatnya Dhandy. Dhandy Aditya Ardiansyah. Laki-laki yang saat ini sedang Mbak cari kan?” Dan ternyata laki-laki itu adalah Jarwo. Lho… lalu bagaimana dengan Dhandy. Mengapa Jarwo hanya sendirian.
“Apa? Oh ya?”
“Kita ngobrolnya di lantai atas saja yuk. Biar enak, bagaimana?”
“Baiklah.”

Dhandy itu rekan kerja saya, selama ini dia sangat ingin bertemu dengan Mbak Annisa. Semenjak pertemuan pertama waktu itu saat Mbak Annisa kecopetan di kereta, Dhandy terus memikirkan Mbak Annisa. Setiap saat, yang ada dalam bayangan dan lamunannya hanya Mbak Annisa ini. Ingin telepon, tapi tidak tahu nomernya. Karena posisinya saat itu Mbak juga habis kehilangan handphone kan. Dan Dhandy pun lupa tidak memberikan nomor handphone sama Mbak. Setiap melihat wajahnya, saya terkadang kasihan. Sampai sebegitunya Dhandy kepada seorang perempuan. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu.

Akhirnya tadi pagi Dhandy pun mengikuti saran saya untuk datang ke rumah Mbak Annisa saja di Bogor. Saya pun ikut menemaninya. Tapi… setelah sampai di rumah Mbak, ternyata Mbak dan Papi Mbak tidak ada di sana. Menurut tetangga sekitar, katanya Mbak dan Papinya Mbak sudah pindah. Tapi nggak ada yang tahu pindah ke mana. Akhirnya kami pun pulang dengan tangan hampa. Dengan kegagalan. Dan saya melihat, Dhandy sangat kecewa. Soalnya saya lihat, dia sangat ingin bertemu dengan Mbak.

Asal Mbak Annisa tahu, minggu depan itu Dhandy akan berangkat ke Kyoto Jepang karena urusan pekerjaan selama seminggu. Dan sebelum berangkat, dia ingin bertemu dengan Mbak Annisa terlebih dahulu. Sekedar ingin pamit saja dan mengatakan sesuatu sebelum dia pergi katanya.

“Tadi saya seperti melihat Mas Dhandy di dalam kereta saat saya turun di Pondok Ranji sambil memegangi kepalanya. Sayang… pintu keretanya sudah keburu ketutup.”
“Mbak Annisa. Tadi itu Dhandy melihat Mbak Annisa hendak turun di stasiun Pondok Ranji. Dhandy berusaha untuk menghampiri dan menemui Mbak. Namun karena terburu-buru, dia terjatuh dan kepalanya membentur tiang dekat pintu kereta. Dan barusan, dia sudah dijemput keluarganya untuk membawa Dhandy ke rumah sakit terdekat karena khawatir ada benturan yang serius di kepalanya. Karena dari tadi Dhandy terus memegangi kepalanya.”
“Astagfirullahaladzim… Allahu Akbar.”
“Semua itu terjadi karena selama ini Dhandy begitu terobsesi dengan Mbak Annisa, begitu memikirkan Mbak Annisa.”

Dan asal Mbak Annisa tahu, tadinya saya ingin langsung ikut ke rumah sakit menemani Dhandy. Tapi Dhandy mengatakan, sebaiknya elo nggak usah ikut ke rumah sakit Wo. Elo tunggu aja di sini, di stasiun Serpong. Kali aja ada keajaiban. Allah menggerakkan hatinya Annisa untuk nyusul kemari. Dan ternyata, insting Dhandy begitu kuat. Mungkin itu yang dinamakan kekuatan cinta yang ada dalam dirinya. Dan ternyata memang benar. Mbak Annisa nyusul kemari. Berarti itu tandanya bahwa ikatan batin di antara kalian sangat erat. Walaupun raga kalian saling berjauhan. Namun getaran hati, sangat dekat.

Annisa sangat terharu mendengar penjelasan dari Jarwo. Tidak menyangka sampai sebegitunya. Dhandy. Astagfirullahaladzim. Hingga tak sadar, Annisa pun menitikkan air matanya seraya mengukir senyuman keharuan.
“Astagfirullahaladzim. Subhanallah.”
“Kalau memang Mbak Annisa ingin melihat keadaan Dhandy sekarang di rumah sakit, saya bisa antar Mbak sekarang. Bagaimana Mbak?”
“Iya. Saya mau. Antarkan saya ke sana sekarang juga. Saya juga ingin bertemu dengan Mas Dhandy.”
“Ya sudah. Tunggu apalagi. Ayo.”

Namun sebelum beranjak berdiri, tiba-tiba saja handphone Annisa yang disimpan di dalam tasnya berbunyi mengagetkannya. Seketika Jarwo dan Annisa pun terfokus kepada suara handphone. Alhamdulillah, sepertinya Annisa sudah mempunyai handphone baru setelah tragedi kecopetan saat itu. Annisa pun segera mengambil handphonenya dan melihat ke layar. “Dari Bi Dedeh… ada apa ya.” Bisik Annisa dalam hatinya.
“Assalamu’alaikum Bi Dedeh. Ada apa Bi.”
“Non Nisa di mana. Cepet pulang Non, kasihan Papinya Non. Dia mencoba untuk bunuh diri lagi.” Jelas seorang perempuan di seberang sana yang bernama Bi Dedeh itu dengan nada yang tergesa-gesa dan nafas memburu.
“Apa?! Astagfirullahaladzim Papi, Papi.”
“Cepetan pulang ya Non. Kasihan Papinya.”
“Iya Bi, saya pulang sekarang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikum salam.”

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *