COMMUTERLINE LOVE STORY : EPISODE 13

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Commuterline Love Story : Episode 13

 

Seorang perempuan di peron stasiun Pondok Ranji menghentikan langkahnya ketika mendengar sebuah suara dari dalam kereta. Ya. Suara itu sangat jelas sekali memanggil namanya. Suara seorang laki-laki. Untuk beberapa saat lamanya perempuan itu terhenti langkahnya seraya berbisik di dalam hatinya. “Seperti ada yang memanggil nama aku dari dalam kereta. Suara laki-laki. Jangan-jangan…” Setelah menyadari, perempuan yang memang benar-benar Annisa Azzahrah itu seketika membalikkan badannya dan mencari ke arah sumber suara yang memanggilnya. “Dhandy. Jangan-jangan tadi yang berteriak memanggil namaku dia. Astagfirullahaladzim…” Bisik di hati Annisa kemudian.

Annisa pun segera melangkah menuju ke pintu kereta terdekat. Namun sayang dan tidak biasanya, seketika pintu kereta tujuan Serpong segera ditutup.

“Yahhh, koq cepet banget nutupnya.” Annisa melihat ke sekitar kaca kereta yang pintunya sudah tertutup rapat. Kedua matanya celingak-celinguk mencari seseorang yang tadi memanggil namanya. Namun Annisa tidak juga menemukan orang tersebut. Telinganya masih sehat. Dengan jelas tadi ada suara seorang laki-laki memanggil namanya walaupun hanya sekali panggil.

Dan perlahan kereta tujuan Serpong pun mulai bergerak menuju ke Barat. Dan di saat itulah dari dalam kereta Annisa melihat seorang laki-laki melonjak-lonjakkan badannya sambil memegangi kepalanya. Dan sepertinya laki-laki itu memang Dhandy. Annisa tidak mungkin salah. Walaupun antara iya dan tidak, namun setidaknya Annisa masih mengenali laki-laki itu walaupun baru sekali ditemuinya.

“Mas Dhandy! Mas Dhandy! Ini aku Mas. Mas Dhandy!!” Annisa memanggil-manggil nama Dhandy dari peron satu stasiun Pondok Ranji dengan perasaan sesal dan juga kaget. Yahhh. Sayang sekali. Padahal sebenarnya selama ini Annisa memang ingin bertemu dengan laki-laki itu.
“Mas Dhandy… banyak yang ingin aku ceritakan sama kamu Mas.” Beberapa saat setelah Annisa mengucapkan itu, announcer stasiun Pondok Ranji terdengar jelas di telinganya.

Commuterline tujuan Serpong, Parung Panjang, Maja dan mengakhiri perjalanan di stasiun Rangkasbitung, KRL-nya sudah berangkat dari stasiun Kebayoran dan akan segera dipersiapkan masuk di jalur satu. Kepada para penumpangnya dimohon untuk segera mempersiapkan diri dan selalu berada di belakang garis aman warna kuning untuk keselamatan diri anda. Atas perhatian dan kerja samanya kami mengucapkan terima kasih.

“Rangkasbitung, berarti lewat Serpong. Aku tunggu kereta itu saja deh. Aku akan susul Mas Dhandy ke Serpong. Insya allah kalau memang jodoh, aku bisa bertemu dengan Mas Dhandy. Ya Allah… izinkan aku bertemu dengan Mas Dhandy. Izinkan ya Allah.

Sementara itu di dalam kereta, Dhandy tak henti-hentinya memegangikepalanya yang kesakitan karena membentur tiang dekat pintu kereta saat terjatuh tadi. Ya. Karena Dhandy terlalu terburu-buru berlari untuk menemui Annisa di luar kereta, akhirnya Dhandy terjatuh dan kini dia merasakan kepalanya sakit sekali. Karena saking sakitnya, Dhandy sampai ditidurkan di kursi kereta. Para penumpang terpaksa harus berdiri dan memberikan tempat duduk mereka untuk Dhandy tiduran karena sedang merasakan sakit. Jarwo yang melihat sahabatnya seperti itu, jadi kasihan. Dia jadi bingung apa yang harus dilakukan.

“Aduhhh, aduhhhh. Sakit banget Wo. Sakiiittt. Ya Allah. Astagfirullahaladzim.” Rintih Dhandy sambil terus memegangi kepalanya.
“Kita turun di Jurangmangu aja ya. Kita ke rumah sakit terdekat. Biar kepala elo segera diperiksa Dhan.”
“Nggak usah Wo, gue nggak mau ke rumah sakit.”
“Lhaterus gimana ini. Gue nggak tega lihat elo kesakitan kayak gini.”
“Iya Mas. Sebaiknya ke rumah sakit aja. Takutnya kenapa-kenapa kepalanya.”
“Bener tuh Mas. Lebih cepat lebih baik. Sebelum terlambat dan akhirnya menyesal.”
“Udahlah Dhan. Kita ke rumah sakit aja. Mau ya.”
“Aaawww. Aduhhhh kepala gue Wo. Ya Allah. Astagfirullahaladzim. Sakit banget.”

Dhandy masih terus kesakitan di kepalanya. Badannya tidak bisa diam. Para penumpang yang ada di dalam kereta melihatnya dengan tatapan kasihan, tak tega dan juga ngeri sendiri. Bahkan ada yang membuang muka karena tak sanggup melihat Dhandy yang terus menggelinjang-gelinjang kesakitan.

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *