COMMUTERLINE LOVE STORY : EPISODE 17

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Commuterline Love Story : Episode 17

 

Hari keberangkatan Dhandy Ardiansyah ke Kyoto Jepang semakin dekat saja. Tinggal dalam hitungan jam. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan. Mulai dari perbekalan, fisik, barang-barang yang akan dibawa selama di sana. Sampai kapan uang saku. Karena, walaupun semua akomodasi ditanggung oleh Pak Abdur Rahman dan kantornya Pak Wawan Kurniawan, namun Dhandy tetap saja harus menyiapkan budget sendiri untuk jajan atau beli oleh-oleh di sana. Tiket, paspor dan juga Visa sudah ada di tangan. Dhandy hanya butuh kesiapan saja selama di sana.

Selama seminggu di Kyoto Dhandy dan Pak Abdur Rahman sudah dipersiapkan hotel oleh Nagao San. Menurut kabar yang disampaikan Nagao San, Kyoto siap menyambut kedatangan Pak Abdur Rahman dan Dhandy. Schedule rencana kerja sama sudah dipersiapkan sedemikian rupa di sana. Kantor Nagao San siap men-service kedatangan Dhandy dan Pak Abdur Rahman. Mereka berharap, semoga perjalanan ke Kyoto nanti lancar-lancar saja tidak ada halangan apapun. Penerbangan saat berangkat hingga pulang lagi ke Indonesia, semuanya baik-baik saja.

Ya. Di sisi lain Dhandy begitu bahagia karena sebentar lagi akan mengunjungi negara matahari terbit itu untuk yang pertama kalinya. Excited sudah pasti. Antusias, jangan ditanya lagi. Karena tidak semua orang diberikan kesempatan dan keberuntungan seperti dirinya. Banyak orang menginginkan untuk mengunjungi negara yang khas dengan bunga sakuranya itu. Namun tidak semua orang bisa seberuntung Dhandy. Walaupun pada awalnya, Dhandy tidak pernah bisa membayangkan sebelumnya bahwa dia akan bisa pergi ke sana. Terpikirkan sedikitpun tidak pernah. Namun alhamdulillah, dia diberikan rezeki dan keberuntungan untuk bisa pergi ke sana.

Wajah dan sikap memang bahagia. Namun tidak dengan hati Dhandy. Betapa tidak, hingga saat ini Dhandy belum bisa bertemu dengan Annisa. Sehari setelah keluar dari rumah sakit saat itu, Dhandy langsung mencoba untuk menemui Annisa di suatu tempat. Namun ternyata ada saja halangannya. Annisa tidak bisa ditemui karena kondisi Pak Arrahman Putra Papinya yang sedang kritis di rumah sakit karena aksi bunuh diri yang direncanakannya waktu itu. Annisa tidak punya banyak waktu untuk menemui Dhandy. Bagaimanapun keadaan Papinya lebih penting daripada Dhandy. Walaupun di hati Annisa telah bermunculan benih kerinduan kepada Dhandy, tetap saja Papinya yang diprioritaskan. Papinya membutuhkan dirinya. Membutuhkannya dukungan darinya.

Dan setiap Dhandy ingin menjenguk Papinya Annisa di rumah sakit, selalu ada juga halangannya. Karena Dhandy akan terbang ke Kyoto, otomatis banyak pekerjaan di kantor yang harus dia selesaikan terlebih dahulu. Agar saat pulang dari Kyoto nanti, pekerjaan di meja kerjanya tidak menumpuk. Untuk itu, Dhandy setiap malam harus overtime atau lembur untuk menyelesaikan semua itu. Mau tidak mau dia harus melakukannya. Untung saja, Jarwo sudah memberikan nomor handphone Annisa saat di rumah sakit. Jadi saat ini, Dhandy hanya bisa menelepon atau kirim pesan via whats-App kepada Annisa. Seperti yang sedang dilakukan Dhandy pagi ini di peron stasiun Serpong saat Dhandy akan berangkat ke kantor. Dia menelepon Annisa dengan gelegak-gelegak kerinduan di dalam dadanya.

“Assalamu’alaikum Annisa. Apa kabar?” Sapa Dhandy dengan suara yang begitu merdu dan lembut.
“Waalaikum salam Mas Dhandy. Kabar Nissa baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu. Oh iya, keadaan Papi kamu gimana. Ada kemajuan?”
“Alhamdulillah keadaan Papi sedikit lebih baik Mas, tidak seperti dua hari yang lalu. Sekarang Papi sudah mau makan.”
“Maafkan saya ya Annisa. Sampai saat ini, saya belum bisa menengok Papi kamu, saya jadi nggak enak.”
“Nggak apa-apa Mas. Mas Dhandy fokus saja ke pekerjaan. Jangan sampai pekerjaan Mas Dhandy terganggu dan terbengkalai hanya karena masalah ini. Mas Dhandy kan mau ke Jepang. Pastinya, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor.”

Dhandy tidak menanggapi ucapan Annisa di seberang telepon sana. Sejenak dia terdiam antara bahagia dan juga sedih.

“Mas… kapan ya kita bisa ketemuan. Banyak hal yang ingin Nissa ceritakan sama Mas Dhandy.”
“Annisa, saya juga demikian. Ingin bertemu dengan kamu lagi. Nissa juga tahu, setiap kita mau bertemu ada saja halangannya. Bukannya tanpa usaha, tapi saya sudah mencobanya. Tapi memang… Allah belum mengizinkan kita untuk bertemu lagi. Tapi…”
“Tapi kenapa Mas?”
“Besok malam saya akan terbang ke Tokyo. Saya ingin sebelum saya pergi ke airport, kita bisa bertemu di suatu tempat. Sungguh, saya kangen kamu Annisa. Berbicara di telepon seperti ini dan bertemu langsung itu beda rasanya.”
“Nissa juga inginnya ketemu sama Mas Dhandy sebelum berangkat ke Jepang. Tapi Nissa tidak yakin bisa ketemu sama Mas. Karena Papi tidak bisa ditinggal di rumah sakit. Tidak ada yang jaga.”

Mendengar ucapan Annisa, tipis sudah harapan Dhandy untuk bertemu dengan Annisa sebelum terbang ke Jepang. Secara pahitnya, detik-detik keberangkatan Dhandy, sepertinya dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Annisa. Lalu kapan bisa ketemunya. Hmmm…. hanya Tuhanyang tahu.

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *