COMMUTERLINE LOVE STORY : EPISODE 28

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Commuterline Love Story : Episode 28

Syaratnya adalah, kami tidak mengizinkan acara reality show ini dishoot saat-saat jam sibuk berangkat dan pulang kantor. Yaitu sekitar pagi dari jam enam sampai jam sembilan. Dan sore dari jam empat sampai jam delapan malam. Dan kami juga tidak mengizinkan acara ini shooting pada hari sabtu, minggu dan hari libur nasional. Karena di hari-hari libur seperti itu, penumpang yang masuk ke stasiun Manggarai sangat banyak, kadang melebihi kapasitas.

Untuk itu saya sarankan kepada Mas Dirga Mahendra selaku yang punya acara, Mas Jarwo Wong, Mas Hendro Lesmana dan kru yang lainnya, untuk tidak shooting pada jam dan keadaan yang saya sebutkan tadi. Karena bila dipaksakan untuk shooting, stasiun Manggarai bisa semrawut dan makin penuh. Kalau Mas Dirga Mahendra dan yang lainnya tidak setuju, silakan cari tempat yang lain yang tidak punya aturan seperti itu. Tapi bila memang masih mau diteruskan, itu persyaratan dari kami.

Penjelasan dari Pak Ismail selaku kepala stasiun Manggarai sangat jelas terdengar di telinga masing-masing. Semuanya nampak menyimak dan mendengarkan. Beberapa saat setelah itu dari arah utara, masuk kereta api jarak jauh di jalur empat stasiun Manggarai. Semua kru dan yang terlibat di acara reality show itu diam sejenak, karena gemuruh mesin dan klakson kereta lumayan mengganggu telinga.

“Bagaimana Mas Hendro, Mas Jarwo? Kami tergantung kepada anda berdua. Kalau saya dan kru dari team acara “Lamaran”, tidak masalah mau shooting kapanpun. Sebagai wadah yang memfasilitasi, kami siap kapan saja.” Dirga Mahendra sang artis dan pembawa acara reality show itu menatap bergantian Jarwo dan Hendro.
“Client kita Dhandy Ardiansyah, dia tetap ingin acara ini diadakan di stasiun Manggarai. Jadi saya rasa sebaiknya shooting tetap dilaksanakan di sini dengan mengacu kepada jam dan keadaan yang dijelaskan oleh Pak Ismail tadi.” Hendro yang berbicara. “Bagaimana menurut lo Wo?”
“Ya nggak apa-apa, tetap seperti rencana semula. Di stasiun Manggarai. Dan saya rasa, saudara Dhandy Ardiansyah tidak keberatan. Yang penting semuanya berjalan lancar. Itu yang terpenting. Soal harus shooting jam berapa dan kapan, saya rasa tidak masalah.”
“Baiklah, deal ya.”
“Deal.”

Ya sudah. Bagaimana kalau shootingnya kita adakan hari senin depan saja mulai dari jam setengah sebelas siang di peron arah utara ini sampai dengan selesai. Bagaimana?

“Oke, tidak masalah. Secepatnya saya akan memberikan kabar kepada saudara Dhandy Ardiansyah yang masih di Jepang sana.”
“Ya sudah. Izin sudah saya berikan. Sekarang tinggal pelaksanaannya saja. Dan saya mohon, semua dilakukan dalam keadaan tertib. Tidak mengotori area stasiun, tidak merusak barang dan benda yang ada di stasiun.”
“Terima kasih atas izinnya Pak Ismail. Maaf kalau kami merepotkan dan mungkin membuat jadi tidak nyaman di stasiun ini.”
“Kalau sekali-sekali insya allah nggak apa-apa Mas Dirga. Tapi kalau setiap hari, itu baru cari masalah. Hehehe.”
“Hehehe, Pak Ismail bisa saja.”

Akhirnya kesepakatan pun dibuat. Izin sudah diberikan oleh Pak Ismail selaku kepala stasiun Manggarai. Hendro, Jarwo dan Dirga Mahendra bisa bernafas dengan lega.

Treatment, jalan cerita dan setting acaranya seperti apa mulai dibicarakan oleh Hendro, Jarwo dan Dirga Mahendra. Selepas mengantongi izin dari Pak Ismail, mereka bertiga dan kru acara lamaran bertolak ke starbucks stasiun Manggarai untuk membicarakan masalah ini. Maunya seperti apa dan bagaimana, harus mulai dipikirkan dari sekarang. Karena hari senin depan, eksekusi akan segera dilaksanakan.

Sebenarnya Dirga Mahendra lebih puas dan lebih enak membicarakan masalah ini langsung dengan Dhandy Ardiansyah sang client yang punya acara. Face to Face lebih asyik dan lebih terbuka. Untuk itu, Dirga Mahendra dan kru dari acara tersebut sengaja menghubungi langsung Dhandy yang sedang di Kyoto. Namun sayang, saat dihubungi Dhandy dan Pak Abdur Rahman sedang meeting outdoor di salah satu kuil yang ada di kota Kyoto bersama mister Nagao San. Sehingga komunikasi conferrence call pun, gagal untuk dilakukan.

Akhirnya Hendro dan Jarwo yang menjelaskan. Dhandy maunya seperti apa dan bagaimana. Inginnya begini dan maunya begitu. Jarwo dan Hendro bergantian menjelaskan kepada Dirga Mahendra dan kru acara tersebut tentang eksekusinya mau seperti apa. Terjadi beberapa perdebatan di antara mereka. Namun setelah itu semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Intinya, acara tersebut akan dibuat seromantis dan seindah mungkin. Insya allah.

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *