PANGGIL DIA IBU : EPISODE 10

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Panggil Dia Ibu : Episode 10

 

Beberapa orang yang ada di stasiun Duren Kalibata sempat memperhatikan Elmeira yang tiba-tiba saja marah kepada Yulia. Sorot matanya demikian tajam. Nada bicaranya demikian tinggi. Baik Wawan maupun Yulia cukup kaget dengan sikap Elmeira itu.

“Elmeira, jaga bicara kamu sayang.” Wawan memperingatkan dengan nada bicara yang tetap lembut dan penuh kesabaran karena putrinya itu sedang dalam keadaan emosi.
“Biarkan saja Kang, tidak apa-apa. Biarkan Elmeira melampiaskan semua amarahnya. Aku memang pantas diperlakukan seperti itu. Aku memang pantas.” Yulia menyadari akan kesalahannya.
“Tapi Yulia…”

Tidak apa-apa Kang. Kalau memang hal itu bisa memuaskan hati Elmeira, aku terima. Aku sangat mengerti bagaimana perasaan dia. Biarkan dia menumpahkan semua kebenciannya padaku.

“Elmeira, Ayah mohon Nak…”
“Ayah tidak lupa kan bagaimana perlakuan perempuan ini dulu sama kita. Koq semudah itu Ayah bisa menerima kehadiran dia kembali. Dulu itu Ayah mengemis, bersimpuh dan memohon di kaki perempuan ini sambil menggendong aku dan Habibi. Ayah sudah menangis sedemikian rupa agar hati perempuan ini iba. Tapi apa buktinya Yah, apa?”

Perempuan ini tidak terketuk pintu hatinya sama sekali. Tangisan Ayah, aku dan Habibi tidak pernah tembus ke dalam hatinya. Dan yang ada, dia malah menendang Ayah hingga Ayah terjatuh ke got bersama aku dan juga Habibi. Dan karena terjatuh ke got, kepala Habibi membantur tepian tembok got yang runcing hingga Habibi menangis, berdarah dan akhirnya harus dibawa ke rumah sakit.

 

Apakah dengan kejadian itu perempuan ini hatinya tersentuh dan terbuka? Tidak Ayah. Dia malah tertawa-tawa sambil terus mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Ayah… aku tidak akan pernah lupa kejadian itu. Dan semua itu terjadi karena Ayah miskin dan tidak punya apa-apa. Dia hanya menganggap Ayah seorang suami yang tidak berguna. Dia menilai Ayah hanya dari sisi materi. Tak heran makanya setelah dia bercerai dari Ayah, dia menjadi perempuan murahan. Dan semua itu dilakukan demi uang. Amit-amit, najis kalau harus punya seorang Ibu seperti itu. Malu Yah, aku malu. Lebih baik aku tidak usah punya Ibu selamanya.

“Cukup Elmeira, kamu sudah menyakiti hati Ibu kamu sayang.” Wawan merasa, putrinya sudah berlebihan. Namun dia tetap bisa mengontrol emosinya.
“Hati aku dan Habibi lebih sakit Yah. Dan hingga saat ini masih terasa. Perempuan seperti dia memang pantas diperlakukan seperti itu.”
“Betul tuh Teh. Karena perbuatan dia, aku hampir meninggal. Karena dia, kita semua menderita.” Habibi yang dari tadi diam saja, akhirnya ikut bicara dan berada di pihak Elmeira.
“Dan gue minta, elo pergi dari sini. Sampai kapanpun gue nggak akan pernah merestui elo ketemuan lagi sama bokap gue. Nggak akan. Karena gue nggak mau hati bokap gue terluka lagi untuk yang kedua kalinya gara-gara lo. Cam kan itu.”

Sekuat tenaga semua dikerahkan. Segenap amarah, semuanya dikeluarkan. Makian, nada tinggi dan suara yang keras, dimuntahkan semua oleh Elmeira kepada Yulia. Menerima perlakuan itu, Yulia hanya bisa menangis dan menangis tanpa pernah bisa untuk membalas atau balik melawan.

“Maafkan Ibu Elmeira, Habibi. Maafkan Ibu Nak. Ibu memang salah, dulu Ibu sudah kejam sama kalian berdua.”
“Heuhhh, tidak usah soq-soq nangis dan sandiwara seperti itu. Gue nggak akan tergoda. Karena hati elo itu penuh kebusukan.”
“Astagfirullahaladzim, ampunilah anakku ya Allah.”
“Elo yang harus minta ampun sama Allah. Bukan gue. Karena dosa-dosa elo sama suami elo dan anak-anaknya begitu banyak. Ngerti lo!”
“Sudah, sudah Elmeira. Tahan emosi kamu. Sebaiknya kita pulang saja, tidak enak dilihat orang banyak.” Dengan perlakuan yang masih tetap sabar, Wawan menghampiri Elmeira kemudian menenangkannya dengan cara memeluknya.

Dan memang benar, di sekitar tempat itu, sudah banyak orang berkerumun menyaksikan kejadian itu. Dan tidak satu orang pun yang melerai, karena mungkin di antara mereka belum ada yang main fisik atau kekerasan, hanya sebatas ucapan saja.

“Elmeira… Habibi… Ibu minta maaf Nak, Ibu minta maaf.” Yulia terisak tangis kemudian menjatuhkan dirinya ke bawah. Melihat itu sebenarnya Wawan tidak tega, namun karena menjaga perasaan Elmeira yang sedang emosi, Wawan pun membiarkan Yulia menangis bersimpuh di bawah.

Sungguh, Wawan tidak pernah menyangka kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Sambil memapah Elmeira dan Habibi ke peron stasiun Duren Kalibata, tanpa terasa Wawan menitikkan air matanya.

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *