PANGGIL DIA IBU : EPISODE 11

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Panggil Dia Ibu : Episode 11

 

Sudah sekitar lima belas menit Wawan dan kedua anaknya menunggu kereta tujuan Bogor di stasiun Duren Kalibata. Sudah dua kereta yang datang, namun keduanya kereta hanya sampai stasiun Depok. Cuaca sore itu nampak cerah. Cahaya matahari masih menebarkan hangatnya. Dari arah selatan, perlahan-lahan commuterline tujuan Jakarta Kota tiba di jalur satu peron stasiun Duren Kalibata. Penumpang yang ada di dalamnya tidak terlalu banyak. Bergantian antara yang masuk dengan yang keluar.

Sementara itu Elmeira wajahnya masih dalam suasana emosi dan marah. Begitupun dengan Habibi. Hanya saja Habibi masih bisa dikendalikan. Dan hal itu sangat disayangkan oleh Wawan sebagai orangtua. Tidak menyangka bahwa Elmeira dan juga Habibi akan semarah itu kepada Ibu kandungnya sendiri.

“Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu sama Ibu kamu Elmeira, nggak sopan namanya. Kasar. Padahal Ayah tidak pernah mengajarkan seperti itu sama kamu. Malu dilihat orang banyak. Kasihan Ibu kamu.”
“Ayah juga salah, diam-diam menemui perempuan itu tanpa sepengetahuan aku dan juga Habibi. Ayah masih cinta sama dia. Tolong dong Yah, jangan mempermalukan diri Ayah sendiri. Masih banyak perempuan lain yang lebih baik dari dia untuk dijadikan istri.”
“Panggil dia Ibu Elmeira, bukan dia atau elo. Itu nggak sopan. Hormatilah perempuan yang sudah mengandung kamu selama sembilan bulan. Kamu sudah menghuni rahimnya, tak pantas berbuat kasar dan tidak sopan seperti tadi.” Sampai sejauh ini nada bicara Wawan masih biasa saja. Tidak ada unsur emosi, kasar apalagi marah.

Karena bagaimanapun juga, Elmeira tetap anak kandungnya. Dia tidak ingin terbawa emosi. Karena api bertemu dengan api, bisa bahaya. Dan sebagai seorang Ayah, seharusnya Wawan bisa menempatkan dirinya. Apa yang baik untuk dilakukan dan apa yang tidak baik.

“Teteh benar Yah, kalau memang Ayah butuh pendamping lagi, carilah istri yang lebih baik dari mantan istri Ayah yang dulu. Yang sholehah, yang mengerti agama. Yang berhijab dan bisa menutup auratnya. Tidak seperti perempuan tadi. Pakaiannya saja seperti itu.” Habibi menambahkan.
“Saat ini, Ayah sedang tidak memikirkan calon istri atau calon pendamping. Ayah hanya memikirkan bagaimana caranya kalian bisa sukses, sekolah yang tinggi dan bisa mencapai cita-cita kalian. Itu saja. Ayah sudah punya dua pendamping sekaligus. Yaitu Elmeira dan Habibi. Jadi Ayah tidak perlu pendamping lagi.”
“Aku cariin Ayah calon istri saja ya. Mau Yah?” Tiba-tiba saja Elmeira tercetus perkataan seperti itu. Membuat Wawan terperanjat.
“Kamu Apa-apaan sih Elmeira, nggak usah.”
“Assalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Di saat Wawan dan kedua anaknya sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja dari arah belakang muncul seorang perempuan berhijab. Mengucap salam seraya tersenyum kepada Wawan.

“Waalaikum salam.” Jawab Wawan kemudian.
“Ini Kang Wawan kan ya. Yang waktu itu ketemu di kereta. Masih inget saya nggak?” Aku perempuan itu yang ternyata masih mengenali wajah Wawan.
“Mbak Calista. Oh iya, masih inget lah.” Akhirnya Wawan ingat juga. Dan memang, perempuan yang kini berhijab itu adalah Calista.
“Oalaaa, kita ketemu lagi ya Kang. Oh iya, ini… siapa Kang Wawan?” Tanya Calista bergantian menatap Elmeira dan Habibi.
“Oh, ini anak-anak saya yang saya ceritakan waktu itu. Yang ini namanya Habibi. Dan ini kakaknya, namanya Elmeira. Abib, Elmei… kenalin, ini tante Calista.”

Untuk beberapa saat lamanya Habibi, Elmeira dan Calista saling berkenalan dan berjabat tangan satu sama lain. Saat berkenalan, Elmeira nampak memperhatikan dengan seksama Calista dari atas sampai bawah.

“Wahhh, sekarang Mbak Calista berhijab ya. Padahal waktu bertemu di kereta waktu itu, masih biasa. Alhamdulillah ya Mbak. Selamat.” Ucap Wawan takjub.
“Alhamdulillah Kang. Dan asal Kang Wawan tahu, setelah bertemu Kang Wawanlah saya memutuskan untuk berhijab.” Jelas Calista dengan yakin.
“Lho koq bisa Mbak. Padahal kan kita baru kenal.”
“Saya juga bingung Kang, entahlah. Semua mengalir begitu saja. Seperti ada yang membisikkan ke telinga saya. Oh iya, anak-anaknya Kang Wawan ternyata sudah besar ya. Saya pikir masih kecil. Soalnya wajah kang Wawan tidak terlihat seperti sudah punya anak sebesar ini.”
“Ah, Mbak Calista bisa saja.”
“Cieee Ayah, awet muda ni ye.” Celetuk Habibi tiba-tiba saja.

Untuk beberapa saat lamanya, situasi yang sedikit panas yan terjadi tadi, mencair dengan sendirinya setelah kehadiran Calista. Dan sepertinya kehadiran Calista membawa suasana baru, terutama di hati Elmeira yang sepertinya suka dengan kehadiran Calista.

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *