PANGGIL DIA IBU : EPISODE 31

Lanjutan Cerbung Panggil Dia Ibu : Episode 31

 

Commuterline tujuan Angke yang dinaiki oleh Wawan berjalan tersendat. Dari stasiun Duren Kalibata tadi, seringkali tertahan. Mau masuk stasiun Manggarai, apalagi. Dan kali ini saat kereta hendak masuk stasiun Tanah Abang, rangkaian kereta tertahan lagi menunggu antrean masuk. Padahal Wawan sudah demikian gelisahnya. Hatinya semakin tidak tenang. Perasaannya sangat cemas. Jantungnya kian berdegup dengan kencang.

Pasalnya, saat Wawan masih berada di sekolah, dia mendapat telepon dari Habibi putranya yang menyatakan bahwa Elmeira saat ini sedang dalam bahaya. Dia disekap oleh dua orang laki-laki yang tidak dikenal. Tentu saja Wawan merasa kaget dan mengkhawatirkan keadaan Elmeira. Terlebih beberapa hari ini Elmeira menghilang dan tidak mau pulang ke rumah.

Di dalam kereta, Wawan semakin tidak tenang. Beberapa kali tempat duduk di hadapannya ditinggalkan penumpang karena hendak turun, namun dia tidak tertarik untuk duduk. Saat ini yang dia butuhkan bukan tempat duduk, tapi keselamatan Elmeira yang saat ini sedang terancam.

Selama Wawan membesarkan dan mengurus Elmeira, baru kali ini dia mengalami hal yang menakutkan dan membahayakan seperti ini. Dan rasanya itu tak jauh beda seperti sedang berdiri di ujung tebing yang di bawahnya ada jurang yang sangat dalam dan gelap. Atau bisa juga diartikan, seperti Wawan sedang berada di tengah samudera yang hanya beralaskan sebilah kayu papan. Sementara itu dari berbagai penjuru, gelombang menerjang.

Dan dalam keadaan seperti itu Wawan harus bertahan dan tidak boleh menyerah. Kalau dia sampai pasrah atau berputus asa, hidupnya akan berakhir. Dan Wawan tidak mau, hidup Elmeira harus berakhir sampai di sini. Dia masih sayang sama putrinya, dia tidak ingin kehilangan Elmeira begitu cepat. Dia belum maksimal membahagiakan putrinya. Sebagai seorang Ayah, Wawan ingin yang terbaik untuk Elmeira.

Sebentar-sebentar Wawan melihat ke arlojinya. Hahhh, waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa. Namun kereta hingga saat ini masih tertahan saja. Bagaimana dengan keadaan Elmeira di sana. Apakah para penyekap itu menyakitinya. Apakah dia baik-baik saja. Tidakkah para petugas PKD dan pihak stasiun Duri punya cara dan jalan keluar agar para penyekap itu segera ditangkap dan ditindak. Tidak enak rasanya Wawan dihantam badai kegelisahan seperti ini. Yang ada dalam benaknya hanya Elmeira dan Elmeira.

Trilit… trilit… trilit.
Handphone Wawan bergetar dan berbunyi. Lekas-lekas dia melihatnya. “Habibi”. Putranya itu yang meneleponnya.

“Assalamua’laikum Habibi, bagaimana keadaan si teteh. Dia baik-baik saja kan?”
“Ayah masih di mana sih? Lama banget.”
“Keretanya tertahan terus dari tadi. Ini saja sedang tertahan mau masuk stasiun Tanah Abang.”
“Ya Allah, dalam keadaan genting seperti ini ada-ada saja.”
“Teteh kamu bagaimana? Cepat kasih tahu Ayah Habibi.”
“Gawat Yah. Sekarang penyekapnya bertambah menjadi tiga orang karena si teteh tadi sempat berontak dan melawan.” Jelas Habibi dengan nada yang terengah-engah.”
“Astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim.”

Wawan menghela nafas kasar sambil merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Kedua matanya terpejam rapat.

“Memangnya para petugas PKD dan pihak dari stasiun Duri tidak ada tindakan apa-apa, Nak?”
“Sepertinya tidak ada Yah. Soalnya sampai saat ini keadaan masih sama.”
“Ya Allah, lindungilah anakku ya Allah.”
“Sekarang, bukan hanya belati saja yang mereka keluarkan Yah, tapi juga pistol.”
“Pistol?!”
“Iya Yah. Kami semua di sini di stasiun Duri, tidak ada yang bisa berbuat apa-apa.”

Katanya, cuma Ayah yang bisa menyelamatkan semua kekacauan ini. Cuma Ayah yang bisa menghentikan semuanya. Di sini tidak ada yang berani bertindak. Semua pada ketakutan.

“Elmeira… anakku.”

BERSAMBUNG ke episode berikutnya…

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *