Tokyo Metro 6000 seri 6121F Dikirim ke Jakarta, Sang Legenda Kembali Berdinas di Ibukota

Tokyo Metro 6000 seri 6121F Semasa Berdinas di Jepang (Foto : Youtube)

Tokyo Metro 6000 seri 6121F Semasa Berdinas di Jepang (Foto : Youtube)

 

Tokyo, KMP News – Setelah Tokyo Metro 6000 seri 6124F yang sudah dikirim dari pelabuhan Tokyo menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok pada tanggal 20 April 2017, dan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan armada KRL milik PT KCJ di tender 2017, kali ini giliran Tokyo Metro 6000 seri 6121F akhirnya dikirimkan ke Pelabuhan Tokyo pada tanggal 9 Mei 2017 untuk dikirimkan ke Jakarta. Dan seperti biasa pengangkutan rangkaian ini dilakukan dari dipo Shin-Kiba hingga pelabuhan Tokyo dengan cara menggunakan truk trailer dan tentunya diangkut melalui jalan raya hingga sampai di pelabuhan.

 

Namun pada rangkaian ini ternyata memiliki sebuah keunikannya yaitu nomor kabin sisi Yoyogi- Uehara (6121) maupun nomor rangkaian (6121F) yang sebelumnya terlebih dahulu dipakai oleh Toei 6000 set 6121F yang telah afkir atau pensiun pada tahun 2015, sehingga pada kenyataannya terdapat 2 nomor 6121 yang dikenal di perkeretaapian Indonesia. Sebelum kita membahas tentang 6121F dari Tokyo Metro seri 6000, ada baiknya kita mengingat sedikit ke belakang untuk mengetahui sejarah dari keberadaan nomor 6121 di armada KRL eks Jepang milik Indonesia.

 

6121 Tahun 2000 – 2015 : Sebagai Toei 6000 rangkaian 6121F

6121F dari seri 6000 milik Toei Subway pertama kali berdinas di Indonesia pada tahun 2000, yang dimana rangkaian ini merupakan satu-satunya rangkaian Toei 6000 batch 1 (yang dibuat pada tahun 1968) yang dikirim ke Indonesia sebagai rangkaian hibah atau sumbangan dari Tokyo Metropolitan Bureau of Transportation. Rangkaian ini awalnya dibuat sebagai rangkaian 4 kereta untuk pembukaan Toei Mita Line dari Shimura (sekarang bernama Takashimadaira) ke Sugamo, namun kemudian ditambahkan lagi dengan 2 unit kereta tengah batch 2 pada tahun 1972 dalam rangka pembukaan ekstensi Mita Line ke arah Hibiya, sehingga secara otomatis rangkaian berubah menjadi 6 kereta. Dan sebagai catatan, pada awal rencana Mita Line akan menggunakan KRL dengan formasi 8 kereta, namun rencana ini tidak pernah terwujud pada tahun tersebut.

 

Rangkaian ini kemudian mendapat jatah pemasangan AC pada tahun 1989 dan merupakan satu-satunya rangkaian batch 1 yang dipasangi AC, serta peremajaan eksterior dan interior untuk memperbarui penampilannya. Namun sayangnya, pada September 1999 seluruh rangkaian Toei 6000 akhirnya pensiun dinas, karena faktor umur kereta dan masalah inkompatibilitas perangkat keselamatan, yang termasuk juga sinkronisasi posisi platform door dan pintu otomatis kereta yang dibutuhkan untuk sistem ATO atau Automatic Train Operation yang kemudian dipergunakan pasca dimulainya layanan terusan ke Tokyu Meguro Line. Namun ternyata, setelah pensiun dinas, kabarnya 6121F sempat akan direncanakan untuk dirucat atau dipindahkan ke perusahaan KA menengah ke bawah di daerah lain di Jepang. Namun rupanya nasib 6121F sangat beruntung, karena bersama beberapa rangkaian lainnya (dan kereta tengah copotan dari rangkaian yang dijual ke perusahaan lain) akhirnya dihibahkan ke Indonesia untuk berdinas di KRL Jabodetabek yang ketika itu didominasi oleh KRL kelas ekonomi yang kondisi eksterior maupun interiornya sangat memprihatinkan dan lebih buruk.

 

TOEI 6000 seri 6121 Sebagai Pakuan Express Melintas Lansung Stasiun Univ. Pancasila (Foto : Tim Redaktur KMP News)

 

Setelah sampai di Indonesia, 6121F selanjutnya menjalani proses adaptasi yang sangat singkat dan pada tahun 2000 rangkaian ini akhirnya mulai berdinas di KRL Jabodetabek, dengan keadaan seluruhnya masih asli Jepang, tanpa teralis maupun cowcatcher. Awalnya rangkaian ini beroperasi dengan formasi 6 kereta yang asli bawaan dari Jepang, namun kemudian setelah itu dirubah menjadi 8 kereta dengan memasukkan kereta 6197 (dari 6191F), 6222 (dari 6221F), 6247 (dari 6241F) dan 6216 (dari 6211F), sementara 2 kereta tengah aslinya (6125 dan 6126) dilepas, yang dimana kereta 6126 dimodifikasi menjadi kereta berkabin dari 6177F (Espass), dan 6125 dijadikan kereta tengah dari 6227F (Lohan).

 

kemudian, bersama dengan KRL Toei seri 6000 lainnya, rangkaian ini ditambahkan teralis serta cowcatcher dengan model seperti pada KRL ekonomi Rheostatik, yang kemudian diganti dengan model besi seperti pada KRL seri 103 pada tahun 2010.

 

Setelah itu rangkaian ini berdinas secara normal hingga pada tahun 2013-2014, akhirnya terjadi kembali perubahan dalam formasi rangkaian KRL Toei secara besar-besaran dan termasuk pada rangkaian 6121F, yang pada akhirnya membuat rangkaian ini mengakhiri dinasnya pada tahun 2015, karena mengalami kerusakan komponen yang tidak dapat diperbaiki lagi yang sebabnya karena kurangnya suku cadang dan faktor umur kereta, yang terjadi akibat penggabungan dengan 6271F yang merupakan rangkaian Toei seri 6000 batch terakhir yang memiliki perbedaan dengan batch sebelumnya, dan kemudian dikirim ke Cikaum untuk dirucat pada tahun 2016.

KRL Toei 6121F ini bisa dibilang sebagai salah satu legenda dalam sejarah KRL Jabodetabek, di mana rangkaian ini merupakan rangkaian hibah eks Toei pertama yang tiba dan berdinas di Jakarta. Pada masa jayanya, 6121F selalu dipakai untuk perjalanan KRL Pakuan Ekspres dan hampir tidak pernah berdinas di layanan – layanan lain.

 

TOEI 6000 seri 6121 di Stasiun Bogor (Foto : Google)

6121 Tahun 2017 ke atas: Tokyo Metro 6000 rangkaian 6121F

Tokyo Metro 6000 seri 6121F yang merupakan rangkaian kedua dari grup produksi batch 3 di seri 6000 yang mengawali karirnya di Teito Rapid Transit Authority (TRTA) pendahulu Tokyo Metro) pada tahun 1977, yang dimana rangkaian ini dibuat pada 21 September 1977 oleh Nippon Sharyo untuk mengantisipasi pertambahan penumpang dalam rangka perpanjangan Chiyoda Line ke Yoyogi-Uehara dan dimulainya layanan terusan ke Odakyu Odawara Line. Meskipun rangkaian ini secara sekilas terlihat seperti rangkaian grup produksi batch 1 dan 2, namun terdapat beberapa perubahan yang cukup signifikan yang dibawa oleh rangkaian ini antara lain :

 

  1. Dipasangnya perangkat untuk layanan terusan ke Odakyu seperti ATS, radio dan lainnya sejak pertama kali dibuat
  2. Dipasangnya alat defroster untuk melelehkan es yang menempel di kaca depan selama musim dingin berlangsung
  3. Pintu untuk keluar-masuk kabin, dari sisi samping kereta diubah menjadi pintu yang sisi atasnya lebih rendah (yang kemudian dipergunakan sebagai desain standar untuk rangkaian batch 4 ke atas)
  4. Pintu gangway dipasang di persambungan kereta 3 dan 4 serta 7 dan 8 untuk menghindari tiupan angin kencang dari persambungan ketika musim dingin
  5. Diperbesarnya kapasitas thyristor pada perangkat traksi chopper dari spesifikasi 1300V menjadi 2500V untuk meningkatkan kinerja traksi
  6. Desain bogi diperbaiki untuk mengurangi guncangan pada saat beroperasi

 

Namun untuk sisi interior, selain penambahan pintu gangway di persambungan kereta 3, 4 dan 7, 8 secara estetika tidak ada perubahan yang terlihat signifikan, karena desain interiornya sendiri meneruskan desain yang dimiliki oleh batch 1 dan 2. Baik itu dari keberadaan lubang ventilasi + kipas penyebar angin dari ventilasi, kemudian bentuk lengkungan langit-langit dan sebagainya, semuanya mirip dengan yang dimiliki oleh rangkaian batch 1 dan 2. Sehingga dapat dikatakan bahwa grup batch 3 merupakan versi perubahan skala kecil dari grup batch 1 dan 2.

 

Ketika pemasangan AC untuk rangkaian yang awalnya dibuat sepenuhnya tanpa AC yang dilakukan pada periode 1988 – 1994, rangkaian ini dipasangi AC yang ditenagai oleh static inverter (SIV) berkapasitas 120kVA (tipe NC-FAT120A buatan Mitsubishi). Namun karena awalnya rangkaian ini merupakan rangkaian tanpa AC, maka TRTA mengakalinya dengan menggunakan sistem spot untuk menyebarkan angin dari AC di dalam interior, yang dimana sistem ini terdiri atas lubang AC yang berukuran kecil namun dalam jumlah banyak (dengan lubang AC tersebut dipasang di pipa penyuplai angin AC), dan penyebaran anginnya dibantu oleh kipas angin yang dipasang tepat di posisi bekas lubang ventilasi sisi interior.

 

Sesuai dengan standar yang berlaku di TRTA maupun penerusnya yaitu Tokyo Metro, ketika rangkaian sudah berumur dinas dikisaran 20 tahun, yang secara umum dilaksanakan menjelang umur 24 tahun yang menjadi tonggak dari pelaksanaan peremajaan skala besar, maka rangkaian wajib menjalani peremajaan skala besar (B-refurbishment), yang dimana salah satu pekerjaannya yaitu penggantian komponen traksi untuk membuat performanya setara dengan KRL baru yang diperkenalkan pada tahun dilakukannya peremajaan tersebut. 6121F sendiri menjalani peremajaan tersebut pada bulan Juli tahun 2000, tidak terpaut jauh dari rangkaian-rangkaian batch 1 dan 2 maupun 6120F sebagai sesama rangkaian batch 3 yang telah menjalani peremajaan pada periode akhir di tahun 1990.

 

Formasi rangkaian Tokyo Metro 6121F

Ketika rangkaian ini menjalani peremajaan di Dipo Shin-Kiba, komponen traksi yang dipasang untuk menggantikan traksi chopper yang sebelumnya dipergunakan oleh rangkaian ini yaitu traksi IGBT-VVVF 3 fasa yang berbasis dari modul traksi IGBT-VVVF yang dipergunakan di KRL seri 05 grup produksi batch 8 milik Tozai Line yang diperkenalkan pada periode November 1999 (dan pada saat itu merupakan KRL seri terbaru yang dimiliki oleh TRTA). Hal ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi listrik secara besar-besaran yang berefek pada berkurangnya emisi pada lingkungan, penurunan biaya perawatan dan juga penurunan dari total biaya yang dikeluarkan oleh TRTA untuk tarif bulanan dari pemakaian listrik untuk pengoperasian KRL.

 

Selain komponen traksi, sisi eksterior dan interior pun ikut diremajakan juga, yang dimana salah satu pekerjaannya yaitu mengganti pintu otomatis ke tipe yang juga setara dengan KRL terbaru pada masa itu. Meskipun peremajaan 6121F dilakukan pada masa TRTA, namun kaca pintu otomatis rangkaian ini menggunakan kaca lembar tunggal seperti yang ditemui di rangkaian yang telah diremajakan, sebelumnya mayoritas dari rangkaian seri 6000 grup produksi batch 4 dan 5 yang diremajakan pasca privatisasi TRTA menjadi Tokyo Metro. Hal ini dikarenakan TRTA berusaha melakukan penghematan biaya peremajaan sebagai langkah dalam memprioritaskan pembelian rangkaian KRL baru untuk menggantikan KRL yang telah menua di jalur lain.

 

Setelah mengakhiri dinas regulernya pada tanggal 20 April 2017 yang lalu, rangkaian ini terlebih dahulu diperiksa di dipo Ayase oleh tim Tokyo Metro dan tim KCJ, setelah itu rangkaian tersebut dikirim ke dipo Shin-Kiba untuk persiapan pengiriman ke Jakarta sebagai KLB angkutan bukan untuk penumpang. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi terbaru tentang rangkaian 6000 VVVF berikutnya yang mengakhiri dinas regulernya untuk dirucat atau dikirimkan ke Indonesia. Dan setelah 6121F, Siapakah rangkaian kelima yang akan dikirimkan ke Indonesia? Kita tunggu saja berita selanjutnya, dan hanya di KMP News.

 

Sumber Lampiran Gambar : Re Digest

Tokyo Metro 6000 seri 6121F Tampak Samping

 

Rangkaian Tokyo Metro 6000 seri 6121F Persiapan Menuju Port Of Tokyo

 

Gerbong Depan Tokyo Metro 6000 seri 6121F

 

Potongan Gerbong Tokyo Metro 6000 seri 6121F Ketika Akan Diangkut Dengan Truk Trailer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *