Transiter : Terlantar Ditinggal Kereta

JPO Tanah Abang Transiter Terlantar ditinggal kereta
Daxa.net

Pagi ini, tiba-tiba redaksi KMP@cakruk menerima pesan dari Dhandy Ardiansyah, roker Serpong. Dalam pesan WhatsApp nya tertulis “Bilangin tan ke ks thb (Tanah Abang) katanya dalem gapeka dia cl tng (Tangerang) terakhir di tungguin, di thb sma cl prp (Parungpanjang) terakhir tpi semalem mlah di tinggal saya 😭😭😭 terpaksa naik kereta tng trun di tanah tinggi lanjut angkot”.
Wahhh… Kasus Transiter ditinggal kereta nih dan sering saya alami sendiri, pikir saya.
Lalu sayapun membalas “WADUHHHH… Piye sihhh. Emang sampai di THB jam.brp ? Kmrn gw jg udah ditahan masuk THB > 30 menit sampe 2 kreta ke SRP liwat… Ditinggal jg… Akhirnya ikut 1936. Jam 16.30 dr ktr 😥 Ga sinkron. Ini td Abdur jg komplen Ditinggal yg ke Tangerang !”.

Dhandy kembali membalas, “Bukan tan di tinggal sma kereta cl prp ydh lanjut aja ke tng tan naik angkot. Jam 23:37 biasanya juga di tungguin. Coba tann tnya sma ks thb knapa di tingalin semalem kan kata dia dlem gapekanya di tungguin !”.

Abdur Rahman roker Bekasi – Rawabuaya (Tangerang) sekitar pukul 07.24 juga mengeluhkan tertinggal KRL ke Rawabuaya (Brownline) dan menuliskan “Biasanya transitan DU ditungguin sama KRL TNG jam segini. Kereta masih kosong lompong udh brangkat duluan. Biasanya ituu KRL dr MRI jam 07.00 pasti ditungguin. Ini 1067 aja jalan dr MRI jam 7. Tau deh J7 jalan jam brp. Udah bener nungguin transiter, Eh malah ditinggal KRL ke TNG 🤦‍♂ Telat ngantor deh…”.

Terbayang dalam benak saya dan bukan rahasia lagi, jika pada pagi dan sore hari di saat rush hour, tentu terjadi hal-hal yang tidak terduga yang membuat kita kadang kecewa, gondog bahkan jengkel. Peristiwa ini bisa kita saksikan di stasiun-stasiun transit seperti Tanah Abang, Duri dan Manggarai. Semua ingin cepat sampai di tempat kerja jika pagi dan sampai di rumah dikala sore/malam hari.

Menanggapi hal ini, rekan redaksi Puji Harto kemudian menuliskan opininya sebagai berikut :

Bicara tentang kereta listrik Jabodetabek, ada 2 hal yang TAK SELALU sinkron.

  • JADWAL yang harus *ditepati* ; yang juga bisa bermakna: kalau sudah telat, jangan sampai semakin telat; atau telat di satu lintas jangan berimbas ke lintas lain
  • *PELAYANAN* , bukan sekedar PENGANGKUTAN, salah satu pemaknaan nya: diupayakan tak ada transiter yang TERLANTAR

ASUMSI saya, jadwal disusun sudah MEMPERHITUNGKAN pelayanan.

Dalam pelaksanaan, bisa terjadi PELAYANAN terabaikan, walau dipercaya bukan disengaja.

Misal, lintas Green Line telat masuk THB, sementara SWEEPER AK – MRI on schedule, petugas lapangan bisa saja memberangkatkan SWEEPER dengan mengabaikan transiter. Pertimbangan nya: JADWAL. Jadi fungsi pelayanan terkalahkan.

Saya ambil perbandingan angkutan bus di Jakarta jaman “jahiliah”. Kita sering tahu penumpang bus tidak diantar sampai terminal akhir. Dioper ke angkutan lain. Yang memancing omelan penumpang. Ternyata di balik itu ada semangat PELAYANAN. Awak bus memantau bahwa HEADWAY terlalu jauh, sehingga penumpang dari terminal awal berpotensi menumpuk. Maka diambil tindakan potong trayek.

Contoh lain, bus pemberangkatan terakhir. Mereka akan berangkat sesuai “konvensi” waktu keberangkatan. Tidak akan berangkat MENDAHULUI waktu. Pertimbangan nya: PELAYANAN. Jangan sampai yang biasa naik pemberangkatan terakhir tak terangkut. Demikian pula di halte yang dilintasi. Bila penumpang yang biasa naik belum nampak, maka bus akan _ngetém_. Pertimbangan nya bukan sekedar UANG, tapi juga PELAYANAN. “Kasihan, nanti pulang naik apa…,” demikian ucap sang Supir. Saya bisa cerita, karena saya pernah mendalami pekerjaan itu.

Kiranya KCI bisa belajar dari Supir PPD, Mayasari Bhakti, Kowanbisata, Koantas Bima, Deborah, dan sejenisnya yang pernah menjadi andalan transportasi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Di balik penampilan kumuh dan sangar nya, di balik sikap brutal mereka mengejar setiap keping rupiah, ternyata mereka bisa mengamalkan semangat PELAYANAN tanpa retorika.

Poin nya: apakah petugas operasional KCI punya wewenang mengutamakan PELAYANAN dengan mengalahkan JADWAL, terutama di STASIUN TRANSIT? Petugas dengan Job Title apa yang diberi wewenang itu? Bagaimana mempersiapkan mereka agar punya KEMATANGAN untuk memutuskan hal itu, mengingat kejadian nya bisa sangat emerging? Dan yang terpenting: apakah mengutamakan pelayanan: MEMASTIKAN ANDA TERANGKUT TANPA TERTUNDA merupakan SEMANGAT KCI dalam menjalankan kegiatannya…?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *