PANGGIL DIA IBU : EPISODE 35

Daxa.net

Lanjutan Cerbung Panggil Dia Ibu : Episode 35 (Episode Terakhir)

 

“Yulia… tolong. Jaga anak-anak kita dengan baik. Elmeira dan Habibi. Sayangi mereka, cintai mereka seperti pertama kali kamu melahirkannya ke dunia.”
“Kang… kamu pasti sembuh. Ambulance dan team medis sedang menuju kemari. Kamu bertahan ya Kang.”
“Kamu harus janji padaku Yulia. Rawatlah anak-anak kita dengan baik. Jangan sia-siakan mereka seperti dulu yang pernah kamu lakukan.”

Yulia hanya menangis, dia tidak sanggup menjawab. Pernyataan Wawan begitu menyakitkan. Tidak sepantasnya dia berkata seperti itu. Karena Yulia yakin, harapan itu masih ada.

“Yulia… Berjanjilah.” Suara Wawan terdengar kembali setelah lama tidak ada tanggapan dari Yulia.
“Tanpa kamu minta pun, aku pasti akan merawat dan menjaga anak-anak kita dengan baik. Aku pasti akan menyayangi dan mencintai mereka, sebagaimana kamu melakukannya.”
“Terima kasih. Terima kasih Yulia. Aku bisa pergi dengan tenang.”

Lelehan demi lelehan air mata terus membasahi pipi Yulia. Kedua matanya terlihat sembab. Setelah itu, Wawan mengalihkan pandangannya ke wajah Habibi putranya. Dilihatnya, putranya itu sudah bersimbah air mata. Isak tangisnya jelas terdengar.

“Habibi… jagoan Ayah.”
“Ayah bertahan ya. Ayah pasti kuat. Abib yakin.”
“Kamu anak laki-laki. Setelah Ayah pergi nanti, kamu harus bisa menjaga dan melindungi Ibu dan teteh kamu.”

Walaupun kamu anak Ayah paling kecil, tapi kamu harus bisa menjadi seorang pemimpin. Kamu harus bisa menjadi panutan keluarga. Ayah mohon, jadilah anak yang baik. Jangan terjerumus ke hal-hal yang negatif.

“Ayah… Ayah pasti hidup. Ayah pasti sembuh.
“Kamu harus berjanji Habibi.”
“Ayah…”
“Berjanjilah Habibi. Ayah mohon sama kamu.”
“Iya Ayah, Abib janji. Abib akan menjadi seorang pemimpin di keluarga kita.”
“Terima kasih Nak.”

Habibi sebenarnya tak mau menanggapi ucapan Ayahnya. Namun karena permintaan Wawan, mau tidak mau Habibi harus menjawabnya. Dan untuk kemudian, tatapan Wawan dialihkan kepada Elmeira yang sama sembabnya seperti Yulia dan Habibi.

“Elmeira… putri Ayah yang paling cantik.”
“Ayah nggak boleh pergi. Ayah nggak boleh tinggalin aku Yah. Ayah harus sembuh.”
“Ayah… sudah tidak kuat lagi sayang. Sebelum nafas terakhir Ayah…”
“Nggak mau, aku nggak mau Ayah ngomong seperti itu. Ayah pasti sehat lagi.”

Elmeira… setelah Ayah pergi nanti, kamu harus janji sama Ayah, kamu akan mencintai dan menyayangi Ibumu. Jangan sakiti hatinya lagi, jangan kasar lagi kepada Ibu Yulia. Jangan durhaka kepada perempuan yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kamu ke dunia. Syurga ada di telapak kakinya. Ayah mohon sama kamu sayang.

“Ayah… Ayah tidak boleh mati. Aku masih butuh Ayah.”
“Tinggal sesaat lagi waktu yang Ayah punya Elmeira. Berjanjilah Nak. Kamu akan memaafkan semua kesalahan Ibu Yulia di masa lalu. Kamu lupakan semuanya.”
“Iya Ayah, aku janji. Aku janji. Aku akan memperlakukan Ibu Yulia dengan baik.”
“Terima… kasih.”

Beberapa saat setelah itu, perlahan-lahan kedua mata Wawan tertutup rapat. Hingga akhirnya kepala Wawan tergolek kaku ke sebelah kiri, ke pangkuan Elmeira.

“Ayah… ayah. Bangun Yah. Ayah…”
“Ayah bangun. Ayah jangan pergi. Ayah nggak boleh pergi. Ayaaahhh.”
“Kang Wawan, Kang. Akang… aku mohon Kang.
“Ayah bangun Yah. Ayaaahhh. Ayaaahhh.”
“Ayah jangan tinggalkan Abib Yah. Ayahhh.”

Elmeira, Yulia dan Habibi bergantian mengguncang-guncangkan tubuh Wawan yang sudah terbujur kaku di lantai peron stasiun Duri. Namun sayang, tubuh itu sudah diam. Tidak bergerak sama sekali. Bahkan beberapa orang yang tahu dunia medis langsung mengecek denyut nadi dan detak jantung Wawan. Dan setelah diperiksa…

“Inna lillahi wa Inna illaihi rajiun.”
“Nggak… nggak mungkin. Ayaaahhh. Ayaaahhh.”
“Bangun Yah, Ayah nggak boleh mati. Ayaaahhh.”
“Ayah kalian sudah meninggal. Ikhlaskanlah.
“Inna lillahi wa Inna illaihi rajiun.”

Jodoh, rezeki dan maut memang rahasia Allah, tidak seorang pun yang tahu. Bahkan orang pintar, dukun, paranormal bahkan dokter sekalipun yang ahli di dunia medis dan kesehatan. Seperti yang dialami oleh Wawan.

Hak Cipta Milik : Fakhrul Roel Aroel Hidayat

πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’ŸΒ SELESAIΒ πŸ’ŸπŸ’Ÿ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *